Tampilkan postingan dengan label kumcer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumcer. Tampilkan semua postingan

26 Juli 2011

Kekayaan Bukan Segalanya by: WIDYAWATI


          Dara, bocah yang kini duduk di kelas 5 SD itu adalah seorang anak tunggal dari keluarga Bapak Mukhtar. Keluarga dara terkenal di seluruh penjuru Indonesia. Bapaknya, adalah seorang Bisnisman Perusahaan furniture yang sukses dan sangat kaya raya. Hartanya melimpah, sahamnya ada dimana-mana. Berbagai perusahaan ia bangun, namun yang sangat menonjol adalah perusahaan furniture dan property rumah tangga itu.
                Dibalik kekayaan dan fasilitas yang bisa Dara dapatkan, ia masih merasa dirinya tak bahagia seperti selayaknya anak-anak seumurannya. Kehidupannya dikekang, ia tidak boleh pergi keluar rumah tanpa kawalan beberapa pembantunya. Ia tak boleh bermain dan bergaul dengan orang sembarangan. Bahkan ia pun menempuh home schooling untuk pendidikannya. Ia merasa sangat kesepian tanpa seorang teman. Ia tak nyaman tinggal di istana yang baginya adalah neraka.
                Namun, Dara tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa menuruti perkataan ayahnya yang begitu keras baginya. Ia hanya tinggal bersama ayahnya, ibunya sudah lama meninggal sejak Dara masih berusia 3 tahun karena penyakit Kanker Otak yang begitu ganas. Menambah deretan panjang cerita pahit dan memilukan bagi Dara. Begitu banyak cobaan demi cobaan dalam hidupnya. Untuk menguji iman dan mentalnya. Ia memang anak gedongan, apa saja yang ia minta pasti akan terkabul. Namun, kebahagiaan dan kasih sayanglah yang tak bisa dibeli dengan uang, sebanyak apapun itu! Karena kasih sayang itu tak ternilai harganya.
                “Hari ini, papa akan mendatangkan guru les piano untuk kamu, dara. Biar kamu bisa jadi maestro piano dikemudian kelak”
                “Pa aku capek tiap hari les ini-itu, belajar tak henti-hentinya. Aku pengen istirahat. Aku mau ngerasain indahnya bermain dan punya teman, pa”
                “Kamu berani ngelawan papa?!  Mulai nakal kamu sekarang! Siapa yang udah ngajarin kamu jadi anak pembangkang gini?!”
                “Aku gak ngelawan pa, aku cuma mau kebahagiaan. Aku ngerasa kesepian”
                “Kamu butuh teman? Yasudah nanti papa akan membawa anak teman relasi papa. Kamu gak boleh bergaul dengan orang yang derajatnya lebih rendah dari kita. Kita adalah keluarga terhormat!”
                “Pa kenapa sih papa gak ngasi aku kebebasan untuk memilih teman? Aku pengen berteman dengan siapa saja”
                “Halah! Kamu tuh masih kecil dara! Belum ngerti yang namanya hidup. Sudahlah lebih baik kamu turutin apa kata papa. Cuma papa yang tahu apa yang terbaik untuk hidup kamu”
                Dara hanya melanjutkan sarapannya dengan kedongkolan yang bercokol dohatinya. Untuk permintaan yang satu ini yang tak pernah dikabulkan oleh ayahnya, yang lainnya, mau beli mainan atau baju sebanyak-banyaknya, ayahnya takkan menolak. Hanya rasa sabar yang bisa Dara lakukan.
                Pria paruh baya itupun pergi berangkat ke kantor. Kini tinggallah Dara sendirian bersama para pembantunya.
                “Bi, waktu bibi kecil sering main gak sama temen-temen?” Tanya Dara polos.
                “Iya neng, dulu bibi sering main di sawah sama temen-temen. Main petak umpet, main galasin, main bola bekel. Masil banyak deh permainannya. Emangnya kenapa neng, kok nanyanya gitu?”
                “Aku pengen banget ,bi ngerasain indahnya bermain sama teman-teman. Bebas kesana-kemari sesukaku. Tapi yang ada aku malah cuma di kurung disini” Kata Dara sedih.
                “Sabar ya, neng. Bibi yakin kok ini yang terbaik untukmu” Kata Bibi Yuni berusaha menghibur.
                “Tapi aku gak bahagia bi. Ga enak banget rasanya gak punya temen”
                “Kan ada bibi. Kita main aja yuk? Mau main apa?”
                “Aku mau main permainan yang bibi certain. Lari-larian dan bercanda sama temen. Pasti lebih asyik”
                “Yah itu kan harus berkelompok mainnya. Hmm, main boneka aja yuk?”
                “Bosen ah, bi”
                “Kamu mau ikut bibi?”
                “Kemana?”
                “Ke tempat masa kecil bibi”
                “Tapi ntar aku dimarahi papa kalau keluar”
                “Gak apa-apa. Bibi berani ngejamin kok. Kamu akan aman kok”
                “Oh yaudah. Makasi banget ya, bi”
                “Iya sama-sama. Ayo kita siap-siap”
***

                Setelah Bibi Yuni memberitahu teman-teman pembantu di rumah Dara, ia pun segera membawa pergi Dara menuju tempat yang bisa membuatnya bahagia. Setibanya disana, Dara begitu berdecak kagum menyaksikan pemandangan yang ia lihat. Ia menyaksikan hijaunya persawahan yang terhampar sejauh mata memandang. Lalu diatas pegunungan itu berdiri tegak pepohonan di rerimbunan hutan belantara. Semuanya menakjubkan, terlihat anak-anak kecil kumuh yang seusia dengannya sedang asyik berlarian di sawah sambil berkejar-kejaran. Dara penasaran dan ingin sekali mendekati mereka.
                “Bi, aku mau main bersama mereka” Pinta Dara sambil menunjuk sekelompok anak yang berkubangan di lumpur.
                “Tapi kamu gak boleh berkotor-kotoran sayang”
                “Yaudah tapi pokoknya aku mau main sama mereka!”
                “Iya iya, sebentar ya, bibi panggilin mereka”
                “Nak Olip, nak gusti!” teriak Bi Yuni sambil melambaikan tangan kea rah sekelompok bocah tadi.
                “Eh ada mbok yuni. Ayo kita kesana” Ajak gusti pada teman-temannya.
                “Ayok” seru mereka bersamaan.
                “Kalian sedang apa?”  Tanya Dara sambil menatap satu persatu bocah itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
                “Abis main mandi lumpur. Hii” Jawab Olip sambil nyengir polos.
                “Ih kok  jorok sih mainnya? Katanya cuma main petak umpet sama galasin?”
                “Iya sih biasanya kita main itu, tapi kita bosen kalau mainnya itu terus” ucap lili.
                “Betul itu” seru yang lainnya.
                “Yaudah sekarang kalian ganti baju ya, bibi bawa anak majikan bibi buat main bersama kalian. Oh iya, kenalan dulu dong”
                “Dara” kata dara sambil bersalaman dengan mereka.
                “Agus”
                “Gusti”
                “Olip”
                “Lili”
                “Senang bisa berkenalan dengan kalian” kata Dara sambil tersenyum.
                “Kami ganti baju dulu ya, dara” kata Lili.
                “Iya”
                “Ayo ikut ke pondok kami” ajak Agus.
                “Iya terimakasih, yuk” kata Bibi dan Dara sambil berjalan mengikuti langkah bocah-bocah itu.
                Setibanya di pondok kecil itu, Dara begitu tercengang dengan apa yang ia lihat. Dirumah yang begitu kecil ini mereka bisa bahagia walaupun dalam himpitan ekonomi yang sulit. Mereka masih bisa tertawa dan berlarian tanpa memikirkan keadaan keluarga mereka yang dibawah garis kemiskinan. Kehidupan seperti inilah yang Dara tak miliki. Ia memang punya segalanya, namun kebahagiaan dan kasih sayang keluarga yang tidak ia dapati. Dara sangat terharu dan salut pada kekompakan mereka. Ia begitu sadar masih banyak orang yang tak seberuntung dirinya.
                “Bi, aku jadi pengen tinggal disini’
                “Hmm, kasian dong bibi nanti sendirian kalau kamu disini. Begitu juga papa kamu”
                “Bibi kan masih bisa kesini lagi. Kalau papa, dia gak akan peduli”
                “Jangan gitu dong manis. Semuanya sangat sayang kok sama kamu”
                “Hei, kita mau main apa nih?” kata Lili yang tiba-tiba keluar dari pintu sambil mengenakan kaos usangnya.
                “Main galasin yuk? Tapi ajarin aku ya” Kata Dara polos.
                “Ayuk ayuk” Sahut Gusti dan Agus.
                Mereka pun pergi menuju lapangan di dekat sungai.  Mereka pun saling suit utuk menentukan kelompok. Setelah suit, merekapun segera memulai permainan. Masing-masing ditempatkan sesuai posisinya, satu sama lain harus bisa menyentuh lawannya. Supaya bisa memenangkan permainan. Nampak Dara yang sedikit grogi, namun ia bahagia bisa merasakan asyiknya bermain sebebas ini. Bi Yuni menatap mereka yang sedang asyik bermain dari balik rerumputan, ia tersenyum bahagia bisa melihat putri jutawan itu senang.
                Tanpa ia sadari ternyata hari semakin sore, Bi yuni pun akhirnya segera meminta mereka untuk berhenti bermainnya. Karena Dara harus segera pulang.
                “Maaf ya, Dara harus segera pulang nanti dia bisa dimarahi papanya kalau terlambat pulang”
                “Iya gak apa-apa kok. Kapan-kapan kesini lagi ya Dara. Seru banget bisa main bersama kamu!” Kata Gusti
                “Iya, tenang aja. Aku akan sering-sering kesini lagi kok”
                Merekapun berpamitan dan bergegas pulang. Mereka naik sebuah angkutan kota yang panas dan sumpek, namun tak menghilangkan rasa bahagia yang baru saja mereka alami. Dara tak henti-hentinya bercerita tentang pengalaman mengasyikkan ketika bermain. Sementara Bi Yuni dengan sabar meladeni Dara yang cerewet ini. Tak terasa mereka sudah tiba di depan gerbang istana itu. Lalu merekapun memasuki rumah dan berharap pak Mukhtar belum pulang. Namun, kenyataan berkata lain. Saat mereka memasuki rumah, terlihat Pak Mukhtar sedang berdiri tegak dengan mata melotot dan geram. Mereka pun ketakutan melihatnya.
                “Darimana saja kalian baru pulang jam segini?!”
                “Maaf tuan, tadi saya abis ngajak Dara ke taman di dekat perumahan sini”
                “Berani-beraninya kamu membawa Dara tanpa seijin saya! Mau kamu saya pecat?!”
                “Jangan, pa! Bi Yuni gak salah kok, aku yang salah udah ngerengek-rengek minta main di taman”  Kata Dara dengan polosnya membela pembantunya yang sangat berjasa padanya.
                “Hm baiklah, kamu masih bisa saya maafkan. Tapi kalau kejadian ini terulang lagi, saya gak akan segan-segan memecatmu! Masih banyak kok yang mau becus kerja disini!”
                “Makasi, tuan. Maafkan saya yang sudah lancang. Kalau begitu saya permisi dulu ke dapur”  Pamit Bi yuni sambil bergegas menuju dapur. Kini hanya tinggal Pak Mukhtar bersama Dara.
                “Dara, kamu jangan nakal ya. papa sangat sayang sama kamu. Papa gak mau kehilangan kamu. Cukup mama aja yang pergi, tapi kamu jangan” Pinta Pak Mukhtar sambil memeluk Dara.
                “Iya pa, Dara juga sayang banget sama papa”
***
Di kantor…
                “Kita harus cari lokasi baru yang akan kita pakai untuk bahan produksi kita” Kata Pak Mukhtar memulai meeting.
                “Tapi pak, apakah bapak tau dimana tempat yang cocok?” Sanggah salah seorang bawahan Pak Mukhtar.
                “Saya dapat tempat bagus. Masih banyak pohon-pohon jati di tempat itu” Kata Pak Mukhtar sambil tersenyum licik.
                “Wah, bagus itu, pak. Terus gimana pengurusan gono-gininya?” Tanya Sekretaris Pak Mukhtar.
                “Itu sih gampang. Hutan itu kebetulan dekat dengan kampung halaman pembantu saya. Tinggal kasih mereka uang yang melimpah juga akan nurut. Hahaha”
                “Ya mereka kan hanya orang miskin. Pasti dikasih uang saja langsung lupa sama yang lainnya. Betul kan boss?” Tanya salah seorang bawahan Pak Mukhtar.
                “Betul itu! Hahaha” Jawab Pak Mukhtar dengan tawa yang penuh rasa sombong.
***
Keesokan harinya, di desa sukawangi…
                Terlihat segerombolan mobil mewah mendatangi persawahan yang asri itu. Para petani pun tercengang melihat kedatangan mereka yang tak pernah mereka ketahui. Namun mereka mengenali salah satu orang itu, ya dialah Pak Mukhtar. Mereka langsung berebut bersalaman menuju Sang Jutawan itu.
                “Ada apa Pak Mukhtar yang begitu terhormat dan terpandang di negeri ini sudi mendatangi sawah kami?”  Tanya salah seorang petani dengan rasa hormat.
                “Begini, saya lihat di dekat sawah ini ada hutan jati kan? Saya berminat untuk membeli hutan tersebut. Saya berani membayar mahal!”
                “Ampun pak, bukannya kami tak mau. Tapi itu Hutan milik pemerintah” Sanggah salah seorang petani.
                “Saya akan membelinya dan mengurus semuanya. Kalian tinggal terima jadi saja. Kalian mau menawar berapa? Saya akan bayar berapapun yang kalian minta!”
                Petani-petani itupun tercengang, mereka bingung dengan tawaran yang sayang untuk ditolak ini. Tapi mereka tak tega menjual hutan dan sawah mereka pada jutawan itu. Mereka diam sesaat dan saling pandang satu sama lain dengan tatapan kosong.
                “Bagaimana? Mau tidak? Saya berani membeli hutan ini dan kalau perlu bersama sawahnya juga! 1 milyar? 2 milyar? Berapapun akan saya sanggupi!”
                Petani itu tercengang mendengar angka yang demikian fantastis itu. Mereka membayangkan akan menjadi kaya mendadak mempunyai uang sebanyak itu. Lalu mereka berbisik merundingkannya. Entah karena himpitan ekonomi atau memang tak sanggup mengurus sawah itu lagi, mereka pun akhirnya rela menjual sawah dan hutan itu.
                “Baiklah, Pak. Kami terima tawaran bapak. 3 milyar bisa?”
                “Hahahahaha. Berapapun itu, saya sanggup!”
                Seketika, sawah dan hutan itupun sekarang jadi milik Pak Mukhtar. Dengan kekayaan harta yang berlimpah, ia mampu membeli segalanya. Namun Pak Mukhtar terlalu picik pada kehidupan. Ia begitu egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri demi keuntungan yang akan ia dapati. Ia selalu merusak alam. Sudah banyak hutan yang jadi gundul karena habis ditebang untuk produksi furniturenya.
***
Di rumah Dara…
                Dara sedang sibuk bersiap-siap untuk ke desa yang kemarin ia kunjungi. Tepatnya Desa Sukawangi, tempat yang akan dibabat habis oleh ayahnya sendiri. Ia membawa berbagai makanan dan mainan yang akan ia sumbangkan untuk teman-teman barunya itu. Bersama Bi Yuni, ia pun bergegas menaiki sebuah kendaraan angkutan umum  menuju Desa Sukawangi yang tidak terlalu jauh dari rumahnya itu.
                Sementara itu, terlihat berbagai alat berat dan para tukang penebang sibuk untuk menebang pohon di Desa itu. Suasana yang tadi hening dan sunyi kini berubah menjadi bising dan lama-kelamaan akan gersang. Keasrian desa itu akan musnah diujung mesin penebang. Pak Mukhtar terlihat senyum-senyum licik dan bangga, karena sebentar lagi ia akan mendapatkan keuntungan yang besar.
                Dara dan Bi Yuni akhirnya tiba di Desa Sukawangi. Namun mereka melihat keanehan dan perubahan yang begitu drastis dari tempat itu. Baru saja kemarin mereka melihat pemandangan yang asri, kini berganti menjadi pemandangan yang gersang dan bising. Bi Yuni melihat sesosok Pak Mukhtar yang sedang melihat-lihat lokasi. Beliau pun tak banyak kata segera menghampiri Pak Mukhtar.
                “Pak, apa-apaan ini bapak menggusur kampung saya? Bahkan menebang semua pepohonan di hutan?” Kata Bi Yuni tak terima.
                “Ngapain kamu disini?! Ngapain juga kamu membawa anak saya?! Ini bukan urusan kamu, ini urusan bisnis saya!”
                “Pa, baru saja aku mendapatlan kebahagiaan yang tak pernah aku rasakan selama ini. Tapi papa tega menghancurkan semuanya! Papa jahaat!” Teriak Dara sambil memukul-mukul kakai Ayahnya.
                “Apa-apaan kamu dara? Kebahagiaan apa yang kamu maksud? Ga ada kebahagiaan disini! Disini hanya tanah gersang yang ga berguna!”
                “Papa, tega mengambil semuanya! Papa tega merampas kebahagiaanku. Kehidupan teman-teman baruku!”
                “Dara, kamu anak kecil ga ngerti apa-apa gak usah banyak bicara. Lebih baik kamu pulang sekarang juga!”
                “Gak! Aku gak akan pulang. Sebelum papa menghentikan ini semua. Papa ga mau kan kehilangan aku? papa sayang kan sama Dara?”
                “Dara, kamu gak usah manja gitu dong. Ini tuh urusan bisnis papa. Kita bisa hidup dari hutan ini sayang. Kamu mau hidup dijalanan hah?!”
                “Gak apa-apa Dara hidup dijalanan! Yang penting Dara bisa bahagia. Daripada sekarang, papa hanya memikirkan diri papa sendiri. Papa gak pernah peduli sama lingkungan yang udah papa rusak! Papa juga ga mikirin gimana perasaanku selama ini yang selalu dikekang dengan berbagai macam aturan papa!”
                “Berani kamu melawan papa?!!!” Kata Pak Mukhtar sambil mengarahkan tangannya ke wajah Dara.
                “Cukup pak!”  seru Bi Yuni sambil menepis tamparan Pak Mukhtar dari wajah Dara. Bi Yuni sudah tak tahan lagi melihat Dara disiksa seperti ini di hadapannya.
                “Kamu juga, yun! Kurang ajar! Kamu tuh pembantu! Ga ada rasa sopannya kau sama majikan! Mau saya pecat?!”
                “Gak apa-apa saya dipecat. Saya sudah gak tahan dan gak tega ngeliat bapak selalu menyiksa bathin Dara. Ia masih kecil, butuh kebahagiaan yang pantas untuk anak seusianya! Ga seperti ini pak caranya membuat Dara bahagia. Ini justru menyiksa Dara!”
                “Kau tuh pembantu! Ngapain menggurui saya!”
                “Maaf pak kalau saya terkesan menggurui bapak. Setidaknya kita sama-sama manusia. Harus saling mengingatkan. Semua manusia sama, pak!”
                “Halah! Kau ga pantas bicara seperti itu di depan saya! Lulus SD juga tidak. Gak usah menggurui saya!”
                “Udah cukup, pa! kalau papa masih tetap ingin menghancurkan kebahagiaan Dara. Lebih baik Dara pergi. Dara lebih bahagia bersama Bi Yuni. Walaupun kekurangan, tapi Dara bisa bahagia!”
                “Dara, kamu jangan tinggalin papa. Papa mohon. Cuma kamu satu-satunya harta papa yang paling berharga” Kata Pak Mukhtar yang tiba-tiba luluh oleh pinta Dara.
                “Aku akan pergi, kalau papa tetap ingin memusnahkan hutan ini! Apakah Papa gak sadar betapa berartinya pohon-pohon ini bagi kehidupan manusia?!”
                “Maafkan papa, Dara. Papa memang sudah terlanjur tersilap dengan kilauan harta. Sehingga papa melupakanmu dan melupakan lingkungan sekitar”
                “Papa sayang Dara kan? Kalau begitu Dara pengen papa suruh pulang tukang-tukang itu” kata Dara sambil menunjuk ke arah para pekerja yang sedang sibuk menebang.
                “Iya sayang. Papa sangat sayang sama kamu. Papa akan turutin keinginan kamu. Papa janji gak akan menyia-nyiakan kebahagiaanmu lagi” Kata Pak Mukhtar sambil memeluk erat Dara
                “Makasih pa”
                “Iya Dara. Maafkan papa”
***
               




24 Juli 2011

SETIA AMANDA by: WIDYAWATI

          
  Hari ini, Manda sudah terbangun dari tidurnya dengan penuh semangat dan sukacita. Ia ucapkan selamat pagi pada semua penghuni rumah, pembantu, tukang kebun, supir, tukang sayur yang lewat, bahkan pada orang yang gak ia kenal. Orang-orang tercengang melihat sikapnya yang rada-rada aneh itu, salah satunya, Nyokap dan Bokapnya sendiri. Mereka cuma menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anaknya yang seperti kesambet setan mimpi.
            “Manda, kenapa kok kamu hari ini aneh sih?” Tanya Bokapnya ketika sedang sarapan bersama.
            “Aneh kenapa, Pa?” Tanya Manda sambil cengar-cengir.
            “Aneh aja kamu hari ini, senyum-senyum sendiri. Kamu sakit ya?”
            “Sakit? Ga kok, badan Manda gak panas kok” Kata Manda sambil meraba dahinya.
            “Hoalah, sudahlah Pak. Biarin aja sekali-kali Manda keliatan lebih semangat gini” Kata Nyokap ngeledek.
            “Iya bener tuh Pa, Mama aja biasa aja tuh!”
            “Iya deh, ngalah aja sama Manda”
            “Gitu dong, Pa. Hihi”
***
            Sebenernya, hari ini adalah hari bahagia bagi Manda. Hari ini bertepatan dengan hari jadinya dengan sang pacar, Leo, yang ke 3 tahun. Ia gak sabar mau ketemu dengan pacarnya untuk ngasih surprise. Ia sengaja bangun pagi-pagi, dan gak biasanya dia berkutat di dapur bersama Bi Iyem buat bikin sebuah kue. Walaupun gak ada sedikitpun keahlian membuat kue, tapi Manda tetep ngotot pengen bikin kue untuk ngerayain hari jadinya bersama pacarnya. Dengan sabar, Bi Iyem membantu Manda yang bawel binti cerewet ini tuk membuat kue, tepatnya kue black forest, kesukaan Leo.
            “Yeaaah, akhirnya jadi juga kue ini!” Gumam Manda.
            “Emang kuenya buat siapa sih, neng?” Tanya Bi Iyem.
            “Hmmm, ada deeh. Bibi mau tau aja deeh” Kata Manda sambil memeletkan lidah.
            “Dasar anak muda zaman sekarang, ditanyain malah jawabnya gitu. Yowislah kalau gitu, bibi mau nyetrika dulu”
            “Oke deh, bi”
            Manda pun membereskan peralatan dapur yang ia gunakan tadi, lalu membungkus kue tadi dalam sebuah kotak berukuran sedang. Ia gak sabar ingin segera memberikan kue yang keliatannya sih enak itu ke cowoknya yang paling ia sayang. Setelah siap, ia bergegas menuju kamar untuk berdandan.
***
Setelah Manda dirinya sudah cukup cantik dan rapi, Ia pun  bergegas menuju rumah sang pangerannya. Ia sengaja tak mengabari cowoknya itu, karena ia ingin memberi kejutan yang pasti gak diduga sama si leo.
            Setibanya di depan rumah Leo, Manda pun mengetuk pintu yang terlihat usang itu. Lalu gak lama kemudian sesosok lelaki muncul dari balik pintu, tapi bukan Leo.
            “Eh ada kak Manda, pasti nyari Kak Leo ya?” Kata Naufal, adeknya Leo.
            “Iya dek, mana tuh kakakmu? Panggilin dong”
            “Ada, tuh dia lagi di kamar belum keluar-keluar daritadi”
            “Masih tidur dek?”
            “Gak tau deh, aku liat dulu deh. Kakak masuk aja dulu, tunggu di ruang tengah aja”
            “Oh oke deh”
            Manda pun duduk menunggu orang yang ia cari itu. Ia agak sedikit bete. “Ah tuh orang kebo banget sih? Masa jam segini belum bangun? Huuh” Gerutu  Manda dalam hati.  5 menit kemudian datanglah Leo dengan senyumnya yang membuat rasa betenya Manda jadi ilang.
            “Sayang, happy anniversary yaa” Ucap Manda sambil memeluk Leo.
            “Iya cinta. Kok kamu pagi-pagi udah kesini? Kan nanti siang aku mau ajak kamu jalan”
            “Ahh aku udah gak sabar sayang pengen ketemu kamu. Aku pengennya sekarang aja. Nih aku bawa sesuatu buat kamu” Kata Manda sambil menyuguhkan kotak yang ia bawa.
            “Apa ini, cinta?” Tanya Leo penasaran.
            “Buka aja”
            “Waaaw, black forest! Kesukaan aku banget nih cinta! Tau aja sih kamu. Thank you ya cinta” Kata Leo sambil mencubit hidung Manda gemas.
            “Iya sama-sama. Btw, aku bikin sendiri loh sayang”
            “Oh ya? masa sih?”
            “Iya dong, masa aku boong? Cobain deh!”
            “Hmm, kok enak sih??” Tanya Leo ngeledek.
            “Ih nanyanya masa begitu. Enaklah! Siapa dulu dong yang bikin, Manda gituu!”
            “Iya deh iya, aku akuin deh kamu ternyata jago juga bikin kuenya” Kata Leo sambil melahap satu persatu potongan black forest.
            “Unyu unyu, nafas dong sayang makannya. Malu-maluin aja sih”
            “Abis enak sih, lagipula juga aku lagi laper. Hehe”
            “Duh kacian pacalku yang satu ini. Yaudah makan aja sampe abis”
            “Nah gitu dong”
            “Sayang, gak terasa ya kita udah 3 tahun jadian?” Kata Manda memulai topik baru.
            “Iya cinta. Aku seneng deh bisa bersama kamu terus. Semoga kita langgeng yah sampe kakek nenek”
            “Amiin. Aku gak mau jauh dari kamu sayang”
            “Makasi ya, cinta. Kamu udah mau setia dan sabar sama aku”
            “Iya sayang, kamu juga selalu sabar walaupun terkadang aku suka manja dan terlalu hiper protektif sama kamu.”
            “Apapun yang terjadi, kamu mau kan selalu di sampingku?”
            “Iya sayang. Kalau Tuhan emang berkehendak kita selalu bersama, aku akan selalu di sampingmu. Aku gak bisa jauh darimu”
            “Aku juga, cinta. Kamu jangan pernah tinggalin aku ya?”
            Suasana pun  berubah jadi sunyi dan mencekam. Pembicaraan mereka lama-kelamaan semakin serius. Setelah mengucapkan itu, Leo menatap Manda begitu dekat, hingga akhirnya kini wajah mereka hanya berjarak 1 cm. Apakah yang terjadi?
            “Toook… tookkk… tookkk!!” Suara ketukan pintu pun memecah kesunyian dan mengagetkan mereka yang sedang bercumbu itu. Sontak saja, Leo langsung salah tingkah dan segera menuju tuang tamu untuk melihat siapa yang datang. Manda pun jadi tersipu malu, sampai-sampai mukanya jadi memerah.
            Saat Leo membuka pintu, terlihat sesosok cewek tinggi langsing dengan rambut panjang terurai dan senyum yang menggoda. Ia sangat mengenali cewek itu. Tapi ia langsung panik dengan kedatangan cewek itu yang gak ia harapkan untuk datang sekarang. Ia takut melukai hati Manda yang baru saja merayakan 3 tahun jadian mereka.
            “Hei, baby. Kok handphone kamu aku telepon gak aktif sih?” Tanya cewek, yang bernama Mona itu.
            “Heh lo siapa sih? Cewek gila lo ya nyasar ke rumah gue! Pergi lo sana, atau gue teriak maling buat ngusir lo!”
            “Ihh baby kamu kenapa sih? Ga banget deh. Kamu baru bangun ya? kok ngigo gitu sih? Kata Mona sambil menepuk muka Leo.
            “Cewek sialan! Pergi lo sana! Jangan ganggu gue!” Usir Leo sambil mendorong tubuh cewek seksi itu. Amanda yang lagi ada di ruang tengah pun penasaran dengan apa yang terjadi di luar, karena mendengar suara teriakan Leo. Ia pun bergegas menuju ruang tamu.
            “Kamu kok tega sih sama aku, beb. Aku salah apa? Aku kangen banget sama kamu. Pengen ketemu kamu, tapi kok kamu jadi aneh gini sih?”
            “Ada apa ini?” Tanya Manda yang tiba-tiba mengagetkan mereka berdua, terutama Leo yang ngerasa riwayatnya akan habis hari ini juga.
            “Heh, lo siapa? Ngapain lo di rumah cowok gue?!”
            “Ada juga lo yang siapa? Ngapain lo ngaku-ngaku cewek Leo. Gue tuh ceweknya! Gila lo ya!” Kata Manda gak mau kalah.
            “Lo yang ngaku-ngaku! Gue ceweknya Leo! Apa-apaan sih lo pagi-pagi gini berduaan di rumah cowok gue! Dasar cewek murahan!”
            “Kurang ajar lo!” Kata Manda geram.
            “Sudah sudah!! Mona lo mendingan pergi deh sekarang juga! lo bukan siapa-siapa gue lagi!!”
            “Oke gue pergi, tapi lo juga harus usir cewek gatel ini juga!” Kata Mona lalu pergi meninggalkan Leo dan Manda.
            “Be…be..benar apa yang tadi dibilang sama cewek itu?” Tanya Manda terbata-bata tak percaya.
            “Cinta, ini hari jadi kita yang ke 3 tahun. Kamu tau kan kalau aku cuma sayang sama kamu? Udahlah gak usah dimasukin kehati omongan cewek tadi”
            “Tapi kenapa dia ngaku cewek kamu? Apa ada yang disembunyiin dari aku selama ini?! Jawab jujur!”
            “Aku ga sembunyiin apa-apa dari kamu! Tolong percaya aku, aku cuma cinta sama kamu”
            “Tapi aku gak percaya, aku ngerasa cewek itu bener!!”
            “Kamu lebih percaya sama cewek gila itu daripada aku?!”
            “Iya! Kamu tega banget sih ternyata kamu masih belum berubah juga!”
            “Yaudah aku minta maaf. Tapi aku bener-bener gak ada apa-apa sama dia. Dia cuma masa laluku!”
            “Bohong! Gak mungkin mantan tiba-tiba ngedatengin kamu dan manggil kamu baby segala! Udahlah gak usah ada yang harus dibahas lagi. Aku udah capek!” Kata Manda sambil bergegas pergi dengan linangan air mata.
            “Mandaa! Jangan pergi, kamu harus denger penjelasanku dulu!” Kata Leo sambil mengejar dan menggapai tangan Manda.
            “Lepasin! Aku udah capek terus-terusan dipermainkan sama kamu! Aku udah terlalu sering ngasi kesempatan buat kamu untuk berubah, tapi apa? Kamu masih sama aja! Masih sering ngehianatin aku!”
            “Aku gak mau sia-siakan kesempatan ini lagi, manda. Kamu jangan pergi. Aku gak sanggup hidup tanpamu”
            “Alah! Semua gombalmu udah basi! Kamu emang gak pernah bisa serius sama janji-janji kamu! Aku udah muak sama semua janji-janji kamu”
            “Aku akan buktikan kalau aku cuma sayang sama kamu!”
            “Percuma! Telat! Kamu cuma bisa mempermainkanku dan melukaiki saja! Aku masih punya perasaaan! Kamu jangan seenaknya mempermainkanku!”
            “Aku minta maaf manda. Kamulah satu-satunya cewek yang ada di hatiku. Cuma kamu yang ngerti aku”
            “Aku gak peduli! Udah cukup 3 tahun aja! Setelah itu jalani hidup masing-masing. Mulai detik ini kita putus!!”
            “Kenapa kamu memutuskan hubungan kita disaat kita sedang 3 tahunan ini? Padahal aku masih ingin berbahagia bersamamu”
            “Aku udah gak tahan dikhianati kamu terus! Kamu selalu saja mengulangi kesalahanmu, seolah kamu gak punya dosa! Kamu gak pernah mikirin gimana perasaanku!” Kata Manda sambil melepas cengkraman Leo dan berlari meninggalkan Leo seorang diri. Cowok itu kini menatap terpaku kepergian cewek yang paling ia cintai itu.
            Penyesalan emang datangnya selalu belakangan. Itulah yang sedang dialami oleh Leo. Ia hanya bisa menyesali kepergian Manda yang sangat tidak ia harapkan. Semua permainannya selama ini tak pernah bisa mengubah perasaan cintanya yang hanya untuk Manda seorang. Sampai kapanpun, Leo akan tetap mencintai dan mengharapkan cinta Manda. Leo terkulai lemas, ia benci pada dirinya sendiri.
            “Seandainya waktu dapat ku putar, aku berjanji takkan pernah menyia-nyiakan kamu, Manda. Cuma kamu yang bisa terima aku apa adanya, mengerti aku disaat suka ataupun duka. Aku akan tetap mencintaimu hingga ajalku mendekat nanti” Lirih Leo.

*** THE END ***


PERSAHABATAN by: WIDYAWATI

           



            Betapa bahagianya mempunyai sahabat-sahabat yang selalu ada dikala suka maupun duka. Mereka bukan anak konglomerat, mereka bukan orang terkenal, tidak cantik, tidak kaya dan biasa saja. Namun aku bangga memiliki sahabat seperti mereka. Karena merekalah yang selalu menghiburku di kala aku sedih, ikut bahagia di saat aku senang dan memadamkan api amarahku. Hidupku menjadi sempurna karena dikelilingi oleh sahabat yang hebat.
            Persahabatan kami bermula sejak pertama kali kami bertemu di kelas 1 SMK. Kami sekelas dan awalnya kami tak mengenal satu sama lain. Semuanya mengalir begitu saja, dan berjalan alami. Seiring dengan berjalannya waktu, kami pun bisa menjadi sahabat yang dekat. Kompak dan selalu bersama di setiap kesempatan.
            Mungkin karena kami selalu bersama orang mengira kalau kami membuat sebuah geng. Namun kami menggubrisnya, kami selalu terbuka untuk berteman dengan siapa saja. Mungkin kedeketan kami hanyalah karena kecocokan satu sama lain.
            Lisa, sahabatku yang juga teman sebangkuku. Wajahnya yang teduh dan jilbabnya tertutup rapat begitu menenangkan siapa saja yang melihatnya. Senyum yang ia pancarkan juga begitu manis dan mampu membuat kaum adam terpana. Ia dari golongan keluarga yang sederhana. Namun kecerdasan dan kedewasaannya sangatlah menonjol dari dirinya. Aku dan Lisa termasuk 2 besar di kelas yang terus bersaing, tapi secara sehat juga dong.
            Sahabatku yang satu lagi adalah, Intan. Terlintas dalam benakku dikala pertama jumpa, dia seorang yang pendiam. Tapi ternyata lama-kelamaan sifat aslinya keluar juga. baru sadar aku, kalau Intan itu orangnya sangat cerewet. Namun, dibalik kecerewetannya itu, Intan juga sosok yang dewasa dan pandai mengatur keuangan. Ia memang sangat bisa diandalkan untuk jadi bendahara kelas.
            Sedangkan aku, Widya. Cewek yang biasa aja. Tidak cantik, tapi tidak jelek juga. Anak-anak di kelasku begitu mempercayaiku tuk jadi ketua kelas. Mungkin terlihat dari watakku yang galak dan tegas. Menjadi pemimpin memang bukan tugas yang mudah. Tanggung jawab yang dipikul begitu berat. Terkadang harus memberi contoh yang baik bagi teman-teman. Kalau nakal dikit selalu saja dikait-kaitkan dengan jabatan. Huh, menyebalkan sekali. Tapi aku menikmatinya. Mengasyikkan juga ternyata menjadi pemimpin, walaupun hanya sebagai pemimpin kelas.
            Kami bertiga tergolong siswa yang paling aktif dan berprestasi di kelas. Teman-teman yang lain seolah iri dengan persahabatan kami yang begitu menonjol. Terkadang banyak yang berusaha untuk menjatuhkan kami. Tapi karena kebersamaan kami, akhirnya kami bisa melewati semua ujian itu dengan mudah. Kami selalu terbuka untuk berteman dengan siapa saja. Walaupun terkadang hinaan dan sindiran selalu dilemparkan pada kami. Kami selalu bersabar dan tetap berusaha untuk tetap baik pada mereka. Tersenyum dan tetap memaafkan adalah cara ampuh kami untuk terus berlapang dada menerima setiap cobaan.
***
            Hari itu, suasana kelas begitu riuh. Ironis memang. Padahal di kelas itu ada seorang guru yang sedang mengajar. Namun, entah karena mereka tidak peduli atau menyepelekan pelajaran yang dibawa guru itu, mereka seolah tidak menganggap kehadiran guru itu. Aku dan Lisa menjadi geram dengan tingkah anak-anak di kelas yang benar-benar sudah kelewatan. Ingin rasanya aku meninju anak-anak yang berisik itu agar memperhatikan guru itu. Kasihan guruku itu, sudah tua, suaranya memang pelan untuk menerangkan materi yang ia sampaikan. Namun, kelemahan guruku itu malah dijadikan hal sepele bagi mereka. Mereka malah sibuk mengobrol sendiri-sendiri. Bahkan berani-beraninya tertawa cekikikan dikala yang lain sedang sibuk menyimak buku.
            “Sekarang giliran Lina yang membaca lanjutannya.” Ucap Pak Harto pelan sambil mendongakkan kepalanya mencari sosok yang ia panggil itu. Namun tak ada respon. Orang yang beliau panggil itu ternyata sedang sibuk berdandan. Aku semakin geram dan tak tahan untuk bersabar.
            “Heh Lina! Kamu itu mau belajar atau mau ngelenong? Hargai dong guru lagi ngajar! Daritadi juga kalian semua sibuk sendiri ga memperhatikan Pak Harto lagi mengajar. Kalian gak tau diri banget ya. Seharusnya kalian malu! Kalian tuh udah dewasa, gak pantes terus-terusan ribut di kelas seperti anak SD!” Teriakku dengan penuh emosi yang meluap-luap sambil merebut kaca dan sisir yang dipegang Lina dan membantingnya hingga pecah dan hancur. Suasana kelas yang tadinya ribut kini tiba-tiba jadi sunyi, mereka kaget dan terbengong-bengong melihatku yang tiba-tiba marah.
            “Sabar, wid.” Bisik Lisa sambil mengelus pundakku.
            “Aku daritadi sudah cukup sabar ya menghadapi kalian. Aku pikir kalian bisa sadar diri. Tapi ternyata tidak. Kalian tidak pantas disebut orang dewasa!”
            “Sudah-sudah, wid. Bapak ngerti kok apa yang kamu rasakan. Bapak juga cuma bisa bersabar menghadapi kalian. Bapak harap kalian bisa menerima dan menghargai bapak dan juga pelajaran bapak. Bapak tahu, pelajaran Kewirausahaan memang pelajaran yang membosankan bagi kalian. Tapi tolong, ini demi kalian juga, mohon perhatiannya sedikit saja. Setelah itu kalian bebas untuk ribut sesuka kalian. Asalkan jangan mengganggu yang lain di pelajaran bapak.” Kata Pak Harto dengan bijak berusaha mencairkan suasana.
            Seketika itu juga, akhirnya kelas menjadi sunyi dan semua anak memperhatikan pelajaran dengan seksama hingga jam pelajaran usai. Aku salut pada kesabaran Pak Harto yang begitu tulus mengajarku dan teman-teman yang lain. Meskipun banyak juga yang tidak memperhatikannya. Beliau selama ini diam bukan karena takut atau tidak peduli pada kesibukan mereka, namun karena beliau ingin menilai sejauh mana rasa perhatian dan hormat kami selaku siswa padanya. Aku pun hanya tersenyum simpul melihat semuanya sudah berjalan normal, suasana kelas seperti inilah yang aku dambakan. Ternyata satu poin lagi aku telah berhasil menjadi ketua kelas yang mendidik teman-teman untuk bisa lebih menghargai setiap materi yang disampaikan oleh guru.
***
            Saat bel pulang berbunyi, aku bergegas merapikan buku dan menaruhnya ke dalam tas ransel biruku. Aku pulang bersama Intan, karena rumahku berdekatan dengannya. Namun disaat aku menuruni anak tangga, aku melihat Lina yang menatapku dengan tatapan bengis dan dingin. Sepertinya ia masih marah dengan apa yang aku lakukan tadi padanya. Aku pun merasa bersalah dan segera mendekatinya.
            “Lina, maafin aku ya tadi sudah marah-marah sampai mecahin kaca kamu juga. Nanti aku ganti dengan kaca yang baru ya. Tapi kamu janji jangan berdandan lagi kalau lagi belajar.” Kataku dengan ramah berusaha meluluhkan hati Lina.
            “Maksud kamu apa sih, wid? Kamu mau cari perhatian sama Pak Harto kalau kamu anak teladan di kelas? Hah? Gak usah sok paling hebat deh di kelas!” Jawab Lina dengan nada sinis dan matanya yang melotot seperti mau keluar disaat menatap mataku.
            “Aku tuh ketua kelas! Jadi memang sudah tugasku untuk mengatur kalian menjadi anak yang tertib dan terarah! Kamu menganggap sepele pelajaran Pak Harto, ya sebagai ketua kelas aku gak terima dong. Aku paling gak bisa menyakiti hati guru!” Jawabku tak mau kalah.
            “Oh jadi begitu ya, anak sok teladan? Sudah deh gak usah pura-pura sok baik di depan anak-anak. Kamu tuh licik, wid. Berusaha dapat rengking 1 dengan cara mengambil hati guru. Basi banget deh cara kamu!”
            “Kamu kelewatan banget, lin! Gak sampai hati ya kamu tega ngomong begitu! Cari-cari perhatian sama guru tuh bukan prinsip hidupku! Ingat ya, persaingan yang sehat tuh persaingan otak!”
            “Halah! Gak usah sok bijak deh! Sok dewasa banget sih, wid! Minggir aku mau pulang, gak ada gunanya meladeni orang munafik!” Kata Lina sambil mendorong pundakku dan segera pergi meninggalkanku dan Intan. Aku jadi kesal dengan perlakuan Lina yang benar-benar keterlaluan. Intan yang dari tadi hanya bisa terdiam pun akhirnya angkat bicara.
            “Sudahlah, wid. Sabar saja menghadapi anak seperti Lina. Kamu kan tahu sendiri dia orangnya begitu. Keras kepala dan gak suka diatur. Yang penting kan kamu udah berusaha meminta maaf. Masalah diterima atau gak nya, itu belakangan.” Hibur Intan sambil merangkulku.
            “Terimakasih ya, tan. Kalau gak ada kamu, aku sudah kejar si Lina tuh buat menamparnya. Huuuffh” Kataku sambil mendengus kesal.
            “Jangan gitulah, wid. Sabar. Jangan pakai kekerasan. Sebuah persoalan kalau kekerasan dihadapi kekerasan gak akan pernah selesai. Gunakan pemikiran dengan kepala dingin dan sikap yang lembut. Insya Allah akan luluh juga hatinya”
            “Oke deh, tan. Kamu memang sahabatku yang paling T.O.P B.G.T deh!” Jawabku dengan senyum menyeringai dan membalas rangkulan Intan. Ia pun tertawa mendengar jawabanku. Dan aku pun segera  pulang bersama Intan dengan mengendarai skutermatikku.
***
            Keesokan harinya di kelas, aku seperti biasa datang pagi-pagi ke sekolah dengan semangat. Kulihat ada Pak Dwi yang sudah berdiri dengan gagah di pinggir lapangan sambil melihat-lihat taman sekolah. Aku pun mendekatinya dan menyalaminya. Pak Dwi memang guru yang paling rajin di sekolahku. Jam 6 saja sudah hadir di sekolah.
            “Bagaimana kabarmu, wid?” Tanya Pak Dwi saat aku bersalaman dengannya.
            “Alhamdulillah baik, pak.” Jawabku dengan senyum.
            “Menjadi ketua kelas memang bukan tugas yang gampang, ya?” Tanya Pak Dwi sambil melirikku.
            “Iya, sih pak. Tapi aku selalu berusaha untuk bisa jadi pemimpin yang baik. Kepercayaan mereka yang telah memilihku sebagai ketua kelas adalah sebuah amanah besar yang harus aku pertanggung jawabkan dengan sebaik-baiknya, pak.”
            “Bagus sekali, wid. Kamu memang satu-satunya ketua kelas yang terbaik di sekolah ini. Kamu berhasil memimpin kelasmu yang terkenal dengan anak-anak yang suka membuat masalah dan keributan. Kamu selalu sabar tapi juga tegas. Bapak sangat salut padamu, wid” Kata Pak Dwi sambil menepuk pundakku.
            “Ah, bapak biasa saja kok. Malahan justru aku merasa banyak sekali kekurangannya. Aku senang kalau anak-anak bisa menjadi baik dan gak membuat ulah lagi.” Kataku dengan pipi yang memerah karena tersipu malu.
            “Sukses ya, wid. Bapak bangga punya murid seperti kamu. Bapak sudah tahu berita tentang kemarin ada keributan di kelas kamu. Pak Harto cerita sama semua guru. Beliau sangat salut padamu.”
            “Amin. Terimakasih banget, pak. Atas pujian bapak. Semoga saja dengan kejadian yang kemarin, anak-anak di kelasku bisa tobat. Hehe” Kataku sambil nyengir.
            “Amin. Jangan kapok ya untuk terus berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan. Negeri ini sangat membutuhkan pemimpin yang adil dan bijaksana.”
            “Oke pak!”
***
            Di kelas, anak-anak sibuk mengerjakan soal MTK. Ada yang sibuk menghitung, ada yang sibuk melirik jawaban teman sebelahnya, ada yang santai-santai bahkan ada yang tertidur di kelas. Aku segera mendekati orang yang tertidur itu, Tio.
            “Wooy! Bangun bangun! Sahuuur!” Teriakku di depan telinganya sambil menepuk pundak Tio. Sontak saja dia kaget dan langsung bangun sambil mengusap mukanya.
            Anak-anak di kelas pun cekikikan melihat Tio yang celingukan. Ia pun langsung grasak-grusuk sibuk mengambil buku MTK dari tas lusuhnya dan segera mengerjakan soal yang diberikan Pak Indra. Aku pun hanya bisa tersenyum dan tertawa dalam hati melihat tingkah temanku yang satu ini. Beginilah kehidupan kelasku yang begitu banyak masalah, namun tersimpan kelucuannya juga. Bawa enjoy saja untuk menghadapi watak mereka yang beranekaragam.
***
            Sementara itu, akhir-akhir ini selain kedekatanku dengan Lisa dan Intan, muncullah sosok baru dalam persahabatan kami, yakni Rina. Dia cewek berjilbab juga. orangnya tinggi gemuk dan terkesan wajahnya lebih keibuan. Orangnya lumayan asik juga. Rupanya ia sedang ada masalah dengan teman-teman dekatnya sehingga dijauhi. Itulah sebabnya dia sekarang lebih merapat dengan aku, Lisa dan  Intan. Aku sih menerimanya dengan senang hati dan dengan tangan terbuka. Berteman dengan siapa saja adalah prinsip hidupku. Asal jangan berteman dengan orang yang berperilaku buruk.
            “Eh lis, aku akhir-akhir ini lagi dekat loh sama cowok yang sekolah disebelah sekolah kita. Dia kayaknya suka deh sama aku” Kata Rina.
            “Oh ya? Memangnya siapa orangnya? Kamu kenal darimana?” Tanya Lisa.
            “Namanya Yunus. Aku kenal dari facebook dan tukeran nomor hape deh. Aku sering telponan dan smsan sama dia. Sekarang dia mau mengajakku jalan.”
            “Oh gitu. Terus kamu mau? Memangnya kamu suka dengan dia?”
            “Suka sih, lis. Habisnya dia baik banget. Perhatian juga. Asik deh orangnya.”
            “Tapi kan, kamu baru kenal setidaknya jangan terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan. Belum tentu dia orang yang baik.”
            “Iya sih, lis. Benar juga katamu. Ah tapi aku pokoknya sudah suka deh dengan dia. Walaupun belum pernah ketemu.”
            “Yasudah, ikuti saja kata hatimu.” Ujar Lisa singkat.
***
            Di lab computer tempat biasa kalau kelasku sedang pelajaran praktek, semuanya sibuk berkutat di depan computer masing-masing. Guruku memberi tugas membuat sebuah pemrograman web berbasis dinamis. Siapa yang paling bagus dialah yang akan mendapatkan hadiah yang guruku janjikan.
            Aku sibuk mendesain dan dengan teliti mengetik tiap kode. Harus jeli dan benar-benar teliti untuk mengerjakan tugas ini. Sesekali aku mengistirahatkan sejenak tubuhku lalu melanjutkan lagi. Kulihat disekelilingku, mereka sama denganku, nampak sibuk mengetik kode. Ada yang nampak stress, bingung, dan ada juga yang sangat santai. Aku pun melanjutkan mengetiknya.
            Selama waktu yang diberikan, aku lihat Lina yang terus menerus bertanya dan minta bantuan ke guruku. Aku mendengus kesal dalam hati, “Ini kan tugas individu. Kenapa sih tuh orang bukannya ngerjain sendiri malah nanya ke guru? Huh!” Anehnya lagi, guruku itu hanya mau membantu Lina saja tak mempedulikan anak-anak yang lain yang jauh lebih kesulitan dibanding Lina. Aku heran, tuh guru gak adil banget sih. Mentang-mentang Lina itu cantik, seenaknya saja dia menghalalkan segala cara demi mendapatkan nilai bagus. Gak sportif banget saingan dengan orang yang seperti itu.
            “Oke, waktu sudah habis. Silakan save kerjaan kalian. Dan tinggalkan kerjaan kalian. Biar bapak nilai dahulu.”  Kata Pak Ishak.
            Aku dan anak-anak yang lain pun menghentikan kerjaan kami. Hufh, syukurlah ternyata kerjaanku akhirnya selesai tepat waktu. Kulihat teman-temanku yang lain masih ada yang setengah jadi, bahkan masih ada perintah yang error. Dan ku tengok kerjaan Lina, ternyata dia juga sudah selesai dan desainnya heboh sekali. Hingga mataku sakit melihat perpaduan warna yang terkesan tak harmonis itu.
            Pak Ishak mengecek satu-persatu kerjaan kami sambil mencatat nilainya. Sesekali ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan sesekali tersenyum. Entahlah apa yang ia pikirkan. Hanya ia dan tuhanlah yang tahu. Aku masih dilanda rasa was-was. Pikiranku mulai tak tenang.
            “Setelah bapak lihat dan nilai hasil kerja kalian, ternyata yang paling bagus adalah kepunyaan Widya dan Lina. Yang lain masih belum sempurna dan masih ada kode yang error. Sekarang diantara Widya dan Lina harus ada yang tersisihkan. Karena juaranya cuma satu.” Terang Pak Ishak.
            Aku lihat dari kejauhan Lina tersenyum licik padaku. Aku pun buang muka. Aku kesal. Ini tak adil! Pantas saja Lina terpilih! Ya iyalah dia kan dibantuin. Huh ingin rasanya aku protes. Kasian anak-anak yang lain, termasuk aku, berusaha mengerjakannya dengan menguras otak sendiri . Sedangkan Lina? Ahhh menyebalkan sekali! Inikah yang dinamakan persaingan? Tak bermutu!
            Beberapa waktu kelas sunyi dan semuanya terdiam membisu. Semuanya menanti jawaban dari mulut Pak Ishak yang kini sedang sibuk membandingkan hasil programku dengan kepunyaan Lina. Sesekali ia bergumam dan menggaruk-garuk kepalanya. Setelah ia benar-benar matang dalam mengambil keputusannya. Akhirnya Pak Ishak membuka suara. Aku pun pasrah dengan apa yang akan terjadi.
            “Setelah bapak nilai baik-baik. Akhirnya yang memenangkan kuis bapak hari ini adalah……” Kata Pak Ishak yang terpotong membuat jantungku olahraga.
            “Lina!” Lanjut Pak Ishak.
            “Hah Lina??” Respon anak-anak yang tak percaya kalau program yang membuat mata sakit itu menjadi yang terbaik. Aku pun juga terkejut mendengarnya.
            “Pak Ishak matanya katarak kali ya? Masa Web norak kayak gitu dibilang bagus? Masih mendingan punya Widya deh.” Bisik salah satu anak ke anak yang lain, mereka pun mengangguk setuju.
            “INI GAK ADIL!” Teriakku dalam hati. Aku tak kuasa mengucapkannya. Mulutku seolah kelu. Aku sudah berusaha mati-matian dan berpikir keras menguras otak buat mengerjakan program web ini, kalah dengan orang yang hanya bisa berpangku tangan. Ini benar-benar licik! Curang! Aku gak terima kalah dari orang yang tak sepantasnya dijadikan pemenang!
            “Maaf, pak. Tapi menurut saya bapak harus meralat lagi keputusan bapak.” Kata Lisa yang tiba-tiba memecahkan lamunanku. Lisa membelaku?? Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya kau mendengar keluhanku.
            “Ada apa, lis? Kamu gak suka dengan keputusan saya?” Tanya Pak Ishak sambil mengernyitkan dahinya.
            “Coba bapak cek lagi apakah program webnya sudah benar-benar bisa dieksekusi atau tidak.”
            Ternyata ketika dieksekusi, punyaku masih ada yang error sedikit dan punya Lina benar-benar berhasil. Aku jadi semakin geram. Pantas saja lah punya Lina berhasil, dia kan dibantuin!! Sedangkan aku benar-benar murni mengerjakan sendiri.
            “Tuh kan terbukti kalau punya Lina yang berhasil? Siapa yang mau protes lagi?” Tanya Pak Ishak menyindir Lisa.
            Lisa dan Intan berusaha menghiburku, mereka mengelus lembut pundakku seraya berbisik, “Sabar, wid. Bagaimanapun juga, ada kepalsuan dibalik kemenangan Lina. Kita semua tahu kalau Lina itu curang. Kita tahu kalau kamu benar-benar mengerjakannya sendiri. Wajar kalau kamu masih ada yang salah. Karena kamu juga masih belajar. Sedangkan Lina? Hanya bisa memanfaatkan orang lain.”
            Seketika aku jadi tenang mendengar sahabatku ini menghiburku disaat aku benar-benar kesal. Aku sangat beruntung bisa mempunyai sahabat yang hebat seperti mereka. Aku hanya bisa pasrah pada Allah. Cuma Dia-lah yang Maha Tahu kebenaran dibalik semua ini.
***
            Ketika Lisa pulang sekolah, di jalan ia bertemu dengan seorang lelaki yang sepertinya pernah ia kenal. Dia adalah yunus! Ternyata Lisa baru sadar ternyata sosok Yunus yang Rina maksud itu adalah teman TK nya. Mereka pun berbincang dan bernostalgia masa-masa TK dan akhirnya Yunus menawarkan boncengan motor pada Lisa untuk pulang bersama. Yunus meminta nomor handphone Lisa dan kemudian mereka terus berkomunikasi sepanjang hari melalui sms, bahkan teleponan juga!
            Perjumpaan Yunus dan Lisa yang tak disangka-sangka itu ternyata membawa mereka dalam hubungan yang lebih lanjut. Ada rasa cinta diantara mereka. Namun Yunus masih menahan rasa itu. Lisa pun demikian. Ia merasa cocok dan nyaman bisa dekat dengan Yunus. Lisa sebenarnya sangat mengharapkan Yunus bisa menjadi kekasihnya. Namun ia menyadari, kalau masih ada Rina yang mengharapkan Yunus juga. Lisa pun bimbang. Tiba-tiba dalam keheningan, handphone Lisa berdering dan ia lihat Yunus yang meneleponnya. Dengan gugup ia angkat telepon itu.
            “Lis, aku mau bicara hal penting sama kamu.”  Kata Yunus di seberang sana dengan suara yang gugup.
            “Mau bicara apa, yun? Katakan saja.” Jawab Lisa dengan jantung yang terus berdetak tak beraturan.
            “Sejak aku pertama kali bertemu kamu lagi, aku jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu, lis. Maukah kamu jadi kekasihku?” Kata Yunus dengan lancar.
            “Hah? Aku gak salah dengar, yun?”
            “Aku serius, lis. Aku sayang sama kamu. Kalau aku boleh tahu, perasaan kamu sendiri bagaimana?”
            “Yunus, bukannya kamu sedang dekat dengan Rina ya?”
            “Itu dulu, lis. Sekarang aku cuma sayang dengan kamu. Kamu lebih baik daripada Rina. Kamu pengertian dan lebih dewasa.”
            “Ee…ee aku juga sebenarnya sayang sama kamu, yun. Tapi kamu benar sudah gak punya hubungan lagi dengan Rina?”
            “Sumpah, lis. Aku sudah lama memutuskan dia. Aku harap kamu bisa percaya sama aku. Berarti kita jadian nih?”
            “Iya.” Jawab Lisa singkat. Merekapun akhirnya resmi menjadi sepasang kekasih. Lisa sangat senang sekali, begitupun Yunus.
***
            Esoknya, Lisa berangkat sekolah bersama Yunus. Mereka nampak bahagia. Karena sekolah mereka berdekatan jadi mudah buat mereka pulang-pergi sekolah bersama. Lisa pun diturunkan di depan gerbang sekolah. Terlihat dari kejauhan, sosok Rina yang tak sengaja melihat Lisa berangkat bersama dengan Yunus, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia sangat marah dan cemburu melihat Lisa berpacaran dengan Yunus.
            Sesampainya di kelas, Lisa yang tadinya ceria disambut dengan semprotan dari Rina yang sudah gemas ingin menerkam Lisa.
            “Oh jadi sekarang begini ya, sikap kamu! Ambil saja tuh mantanku! Aku kira kamu tuh orangnya bisa dipercaya, tapi justru diam-diam menghanyutkan! Pengkhianat! Dasar teman makan teman!” Kata Rina sambil mendorong pundak Lisa.
            “Maafkan aku, Rina. Tapi kamu kan sudah tak punya hubungan apa-apa lagi dengan Yunus. Aku sudah terlanjur sayang sama dia. Salahkah aku menyayanginya?”
            “SALAH BESAR! Kamu harusnya bisa menjaga perasaanku sebagai mantannya. Kamu ternyata licik juga ya di belakangku! Oke, lupakan saja semua yang pernah aku ceritakan padamu! Aku gak sudi punya teman pengkhianat macam kamu!”
            Aku yang melihat pertengkaran Lisa dengan Rina langsung melerainya dan menenangkan Lisa. Aku yakin banget pasti dia syok dihina abis-abisan sama Rina. Aku hanya merangkulnya dan berusaha untuk menghiburnya.
            “Kamu gak salah kok menyayangi Yunus. Di dunia ini, cinta tak ada yang salah. Selama cinta itu tulus maka semuanya akan baik-baik saja. Rina masih belum bisa menerima kenyataan. Mungkin dia perlu waktu untuk terbiasa dengan semuanya.” Lisa pun tersenyum mendengar perkataanku dan memelukku erat.
            Terkadang persahabatan memang banyak ujiannya. Ada teman yang hanya datang dan pergi lagi dari hidup kita. Itupun tak lebih hanyalah sebagai pelarian sementara. Pelarian disaat ia dijauhi oleh temannya. Mendekati kita disaat butuh dan membuang kita begitu saja jika sudah tak dibutuhkan. Cinta pun bisa jadi boomerang diantara persahabatan. Cinta segitiga  diantara sahabat, menjadikan seseorang dalam posisi yang serba salah. Satu sisi karena gak enak dengan sahabatnya, satu sisi lain karena rasa cinta yang sama sudah begitu besar. Begitu banyak kisah pahit kehidupanku bersama sahabat-sahabatku, Lisa dan Intan. Disaat dikhianati, diabaikan, diremehkan, dipilihkasihkan dan semua ketidakadilan yang sempat kurasa. Namun, itu semua bisa terobati dan terhibur oleh kesetiaan sahabat yang selalu mendorongku untuk tetap semangat dan pantang menyerah menghadapi perjuangan hidup yang terkadang kejam dan tak adil. Janganlah sia-siakan sahabatmu, karena mereka lah orang yang paling dekat dengan kita selain keluarga kita sendiri. Sahabat, terimakasih atas semua cinta kasihmu padaku. Aku terus bangkit karena motivasi kalian yang bagai angin surga di tengah kegersangan gurun pasir.