17 September 2011

Rindu & Penantian

Sebuah puisi tentang penantian seorang wanita yang menjalani hubungan cinta jarak jauh (LDR)

Perpisahan..
Tak pernah kuinginkan.
Tak pernah kuharapkan.
Tak terlintas dalam pikiran.

Tetapi..
Semua sudah terjadi begitu saja..
Tuhan menakdirkan kita..
Untuk berpisah oleh jarak.

Meskipun begitu..
Hati kita tetap selalu dekat meski dari jarak yang jauh.
Wajahmu tak dapat kusentuh oleh tanganku..
Tapi, hatimu selalu tergenggam erat oleh hatiku.

Saatku merindukan dekapan hangat mu..
Ku hanya bisa memeluk erat bayangmu dalam sepiku.
Saatku ingin bercengkrama denganmu..
Ku hanya bisa berteman dengan kesunyian..

Saatku butuh dirimu..
Ku hanya bisa bersabar dan menyadari..
Bahwa kau tak ada di sampingku saat ini..
Saat kau sibuk dengan urusanmu..
Ku hanya bisa sabar menanti dirimu..

Rindu..
Hanya itu yang selalu aku rasakan.
Tatkala perpisahan ini tak kunjung berakhir.
Seiring dengan tetes demi tetes air mata yang mengalir dari mataku.
Menganak sungai hingga menjadi lautan rindu yang dalam dan luas.
Lautan rindu sudah kubendung.
Hingga rasanya tak cukup tuk menampung semua rindu ku selama ini.

Ku bergulat dengan kesabaran..
Kesetiaan dan pengorbanan selalu ku kerahkan.
Walau banyak rintangan dan godaan yang menghadang.
Ku kan berusaha untuk tetap setia pada satu hati, untukmu.
Yang jauh di sana..
Yang sedang berjuang untuk masa depanmu..
Dan akupun berusaha untuk tetap mengerti..
Tentang arti perbedaan jarak dalam hidup
kita..


My Favorit Song List [RECOMMEND!]

1. Where Are You Now? - Justin Bieber

 Lagu ini pas banget buat kamu yang sedang kangen dengan seseorang.. Liriknya sangat menyentuh dan daleeem banget. Laut aja kalah dalemnya, hehe #lebay
Nih petikan liriknya:

Where are you now
Now that I'm half grown
Why are we far apart
I feel all alone


Where are you now
When nothing is going right
Where are you now
I can't see the light


So take my hand and walk with me
Show me what to be
I need you to set me free, yeah yeah


I need you, to need me
Can't you see me,
How could you leave me
My heart is half empty
Im not whole when your not with me
I want you here with me
To guide me, hold me, and love me now

2. Paradigm Shift - Liquid Tension Experiment

Buat yang suka musik jamming, dengerin aja musik-musiknya dari band LTE. Dijamin deh bikin semangat dan mood naik lagii. Hoho

3. I Live My Life For You - Firehouse




Lagu ini pas banget buat orang yang sangat mencintai pasangannya. Asiiik deh. Nih liriknya:
Y'know you're everything to me and I could never see
The two of us apart
And you know I give myself to you and no matter what you do
I promise you my heart

I've built my world around you and I want you to know

I need you like I've never needed anyone before

Chorus:

I live my life for you
I want to be by your side in everything that you do
And if there's only one thing you can believe is true
I live my life for you

I dedicate my life to you, you know that I would die for you

But our love would last forever
And I will always be with you and there is nothing we can't do
As long as we're together

I just can't live without you and I want you to know

I need you like I've never needed anyone before

Chorus


I live my life for you
4. First Love - Utada Hikaru

Lagu ini cocok banget buat cinta pertama yang tak pernah terlupakan. Selain yang versi jepang, ada juga lagu yang versi inggris. Penyanyinya Jessa Zaragoza. Berikut petikan liriknya:
You will always be inside my heart
And you should know
How I wish I could have never let you go
Come into my life again
Please don't say no
Now and forever you are still the one
In my heart
So true, I believe I could never find
Somebody like you
My first love
Oh... Oh...

You are always gonna be the one

And you should know
How I wish I could have never let you go
Come into my life again
Oh, don't say no
You will always gonna be the one
So true, I believe I could never find
Now and forever
5. Your Guardian Angel - The Red Jumpsuit Apparatus

Lagu ini pas banget buat seseorang yang sangat mencintai kekasihnya dengan sepenuh hati. Ia pun tak rela meninggalkan kekasihnya itu pergi. Berikut petikan liriknya:
I will never let you fall (let you fall)
I'll stand up with you forever.
I'll be there for you through it all (though it all)
Even if saving you sends me to heaven .
Coz youre my..
You're my... My...Yeah yeah..
My true love, my hwole heart..
Please dont walk out away.
Coz I'm here for ya...
Please dont walk away..
Please tell me you'll stay..

6. My Love - Westlife

An empty street
An empty house
A hole inside my heart
I’m all alone
The rooms are getting smaller
I wonder how
I wonder why
I wonder where they are
The days we had
The songs we sang together
Oh yeah
And all my love
We’re holding on forever
Reaching for the love that seems so far

Chorus

So I say it in a breath
Hope my dreams will take me there
Where the skies are blue
To see you once again my love
All the seas go coast to coast
Find the place I love the most
Where the fields are green
To see you once again my love

I tried to read

I go to work
I’m laughing with my friends
But I can’t stop
To keep myself from thinking

Oh no

I wonder how
I wonder why
I wonder where they are
The days we had
The songs we sang together
Oh yeah
And all my love
We’re holding on forever
Reaching for the love that seems so far

Ketika Masa Lalu Hadir Kembali



Dikutip dari notes FB ku
Ini adalah cerita tentang kisah cintaku dengan cinta pertamaku di SMP...

Aku tak pernah menyangka, cinta pertamaku dulu yang sempat kandas selama beberapa tahun yang lalu. Kini hadir kembali. Mengisi di dalam rongga-rongga hatiku yang telah lama hampa oleh kehadiran sang cinta sejati. Kehadirannya kini, membuat hidupku jauh lebih indah dan bermakna. Dia menghadirkan sejuta makna dan warna-warni kehidupan padaku yang telah lama suram oleh kelamnya patah hati. Aku jadi teringat masa lalu ku dulu bersama dia, di kala masih dini untuk mengenal cinta. Cinta lokasi. Ya, itulah yang kurasa. Seringnya berjumpa di kelas dan saling mengenal diri masing-masing, membuatku menyimpan segala kekaguman dan ketertarikanku padanya. Dia mampu menggugah hatiku. Dia benar-benar berhasil menghipnotisku dengan kecerdasan dan keramahannya. Sudah cukup lama aku pendam rasa itu, hingga aku benar-benar tak mampu lagi membendung rasa cinta ini. Semua perhatianku yang bermula dari rasa kagum kini berubah menjadi rasa cinta. Walaupun dulu aku tak mengerti apa itu cinta, tapi berkat dia, aku akhirnya tahu seberapa dahsyat rasa itu menyerang hati dan otakku. Senyumannya bak embun segar di pagi hari. Keelokan hatinya mampu membius hatiku. Cinta itu buta, aku tak bisa meraba hatinya. Ku lihat sikap dia yang tak begitu menggubrisku. Biasa saja seperti teman yang lainnya. Tapi disini, aku berharap lebih padanya. Aku ingin memilikinya. Tiap malam, tak hentinya ia selalu hadir dalam lamunan dan semua mimpi indahku. Aku terlalu mencintaimu. Hingga ku tak mampu tuk mengungkapkan rasa ini. Setiap hari, hal yang membuatku semangat untuk menimba ilmu adalah bertemu dengannya. Menikmati keramahannya. Walau hanya bisa ku nikmati dari kejauhan..
Namun itu cukup untukku rasakan.
Ah, andai kau tau perasaanku pada saat itu..

******

Ku masih membuka histori lalu tentangnya. Dikala aku sangat memujanya dan mengagumi sosoknya. Hingga berjuta kata tertorehkan diatas carik demi carik kertas dan buku diaryku. Semuanya tentang kekagumanku padanya. Semuanya tentang penggambaran sosoknya yang begitu deskritif. Memenuhi tiap lembar diaryku. Kemanapun aku, dan dimanapun aku selalu teringat padanya. Berbulan-bulan ku pendam rasa ini. Berbulan-bulan aku hanya bercerita dengan pena. Tiap malam, sebelum beranjak tidur, selalu saja aku mengadu pada Tuhan dan diaryku. Tentang hari indah yang ku lewati dengan senyumnya. Berbagai kejadian yang membuatku bahagia selalu aku curahkan pada si diary. Entahlah, aku tak tau sudah berapa kali tertulis namanya di diaryku. Jika diaryku bisa berbicara, mungkin ia akan bosan dan menyuruhku tuk berhenti menulis tentangnya. Tapi ku dapati, diary tetap terus menerima apapun tulisanku. Baik tentang kisah sedih ataupun senangku. Disaat marah dan jengkelpun, sang diary tetap sabar meladeniku yang tak tau harus menceritakan ini semua pada siapa.
Sampai akhirnya, aku telah bosan tuk mengungkapkan ini semua di atas kertas. Ku beranikan diri menumpahkan segala isi hati dan perasaanku dengannya pada seorang temanku. Sudah bisa ku tebak apa responnya, pasti kaget dan tak percaya dengan apa yang ku katakan. Daan yang menyebalkannya adalah dia malah mentertawakanku seolah-olah aku sedang mengguyon. Aku kesal namun aku senang dan lega bisa mengungkapkan ini semua. Toh akhirnya lama-kelamaan berkat teman-temanku juga akhirnya aku bisa melakukan pendekatan dengannya. Hingga akhirnya, hari yang paling indah itu datang..

****
9 Desember 2006
Hari yang tercatat dalam diaryku sebagai hari terindahku bersamanya. Sebab hari itulah aku resmi jadian dengannya. Ini semua berkat bantuan teman-temanku yang selalu mendukungku dan membantuku tuk pdkt dengannya. Melalui secarik surat itulah kisah cintaku dengannya dimulai. Hari demi hari aku semakin dekat dengannya. Tiap hari aku bersemangat tuk datang ke sekolah. Tiap ada kesempatan, kami berbincang-bincang di kelas. Komunikasi kamipun tak sampai disitu saja. Dia sering menelponku tuk sekedar menanyakan kabar dan rutinitas apa yang sedang aku kerjakan. Ia begitu perhatian padaku. Sikapnya yang polos membuatku semakin menyayanginya. Aku yang baru mengenal apa itu cinta kini banyak belajar melaluinya. Memang, ia tak begitu pandai merangkai kata-kata romantis atau memberiku hadiah yang mahal. Namun melihat senyumnya saja sudah sangat cukup membuat hatiku bahagia.
Aku tahu, awalnya mungkin ia masih belum terbiasa denganku. Namun lama-kelamaan kulihat itu dibalik matanya. Kulihat ada cinta dan kasih sayangnya yang tulus untukku.
Hari demi hari berlalu. Berganti dengan minggu. Minggu demi minggu pun telah berlalu. Berganti dengan bulan yang terus bergerak maju.
Begitu banyak kisah yang terjadi di sepanjang jalan kisah cintaku. Mulai dari cemburu, kangen, marah, senang, sedih dll. Semuanya campur aduk dan menjadi indah pada akhirnya. Karena semua cobaan dan berbagai rintangan itulah yang membuat kisah ini semakin indah.
Tiap malam, sebelum ku beranjak tidur aku selalu memikirkannya. Mendoakannya agar selalu sehat dan bahagia. Aku berharap cinta pertamaku itulah yang akan jadi terakhir untukku...



****


Waktu terus berlalu. Berbulan-bulan kujalin tali cinta bersamanya. Ternyata gak selamanya mulus dan lancar. Semuanya pasti memiliki hambatan dan rintangan yang senantiasa datang tuk menguji kekuatan tali yang kita untai bersama. Akhirnya semua berlalu dengan lancar.

Ga terasa akhirnya naik ke tingkat 2. Akupun pisah kelas dengannya. Cobaanpun datang lagi. Tapi ini lebih parah. Jarangnya bertemu membuat komunikasi jadi terganggu. Perhatian yang dulu selalu ada kini terasa memudar. Kesepian dan kesendirian mulai menemani hari-hariku. Hatiku seolah kosong tanpa ada dia disisiku. Aku gak sanggup hidup sendiri.
Gantung, ya mungkin itulah yang terjadi. Entah apa kejelasan dari hubungan ku dengannya. Tiada kabar dan perhatian seperti dulu. 9 bulan sudah cukup bagiku.

September, bulan itu sudah cukup sampai disitu hubungan kami. Tutup buku sudah semua dongeng klasik ku bersamanya. Semuanya berakhir. Bahkan air mata pun seolah mengering. Tiada lagi keceriaan dan semangat seperti dulu. Kini berganti dengan amarah serta kekecewaan.

Aku pun berusaha membuka lembar baru. Memulai tuk mengukir cerita baru tanpanya. Yaa, semua yang tertulis tentangnya aku simpan dalam-dalam. Membiarkan semua ini terkubur, entah sampai kapan. Mungkin suatu saat aku bisa kembali mengukir cerita bersamanya lagi. Ah, mungkin saja. Belum tentu dan harapannya terlalu tipis.

Aku berusaha untuk mencoba bangkit dan memulai kesibukan baru.

Menjadi pengurus OSIS, ya itulah yang terjadi. Aku pun bersyukur bisa jadi bagian dari OSIS di sekolahku. Lumayanlah untuk menyibukkan diri dengan hal bermanfaat. Hingga ku bisa melupakan masa lalu itu.
Namun, ketika tiap kali aku berpapasan dengannya di koridor sekolah. Lidah ini terasa kelu, tiada sapa. Tiada senyum dari bibirnya. Seolah-olah aku tak ada. Aku sedih melihatnya yang berubah begitu drastis. Tapi aku selalu sabar menghadapinya. Roda kehidupan memang selalu berputar.

Sampai akhirnya aku bisa benar-benar melupakannya!
Dan bertahun-tahun pun tak ada lagi komunikasi. Lost contact pun terjadi. Aku kehilangan jejak hidupnya. Terkadang aku bertanya-tanya dalam hati, bagaimanakah kabarnya? Apakah ia disana baik-baik saja? Apakah dia masih mengingatku? Dan, apakah dia masih mencintaiku?

***
Lulus dari SMP, aku mulai memasuki dunia yang baru. Seakan-akan masa laluku terlupakan begitu saja. Hingga akhirnya aku menemukan teman-teman baru, guru-guru baru dan juga seseorang yang pernah jadi bagian dalam hidupku.
Awalnya aku masih fine-fine saja menjalani hidup sebagai siswa SMK. Namun lama-kelamaan, aku mulai didera oleh berbagai macam cobaan. Sifatku yang masih labil (ababil) terus bergejolak. Seiring dengan bertambahnya usia. Berbagai kisah cinta terjadi di dunia baruku. Cinlok ama temen sekelas, pacaran ama temen beda jurusan, dikhianati, dibohongi, putus cinta, de el el.
Semua masalah itu selalu membuatku semakin tegar dan terus berjuang tuk tetap semangat. Hingga akhirnya, aku sudah tak kuat lagi untuk terus menerus disakiti.
Akupun mencoba bangkit, melupakan segala pengkhianatan itu. Dan mencoba tuk membuka hati tuk menerima orang lain..

Hingga akhirnya, ketika dipenghujung waktuku yang tersisa sebagai siswi SMK, aku kembali berkomunikasi dengannya. Sungguh tak bisa kusangka. Cinta pertamaku sejak SMP, yang dulu telah hilang begitu saja dari pikiranku, kini hadir kembali.
Meskipun hanya berkomunikasi lewat facebook, namun aku senang dan tak menyangka semua ini akan terjadi. Permainan waktu begitu penuh misteri dan terkadang begitu mengejutkan. Entah skenario apa yang akhirnya akan terjadi setelah pertemuan ini.
Awal mulanya, aku lihat ada namanya di Friend Request facebookku. Aku pun penasaran, lalu aku confirm saja. Hingga akhirnya ia menyapaku lewat wall. Dan memulai komunikasi yang telah bertahun-tahun kandas. Ia meminta maaf padaku atas kesalahannya di masa lalu. Akupun hanya menjawab, bahwa aku sudah memaafkannya dan melupakan semua kejadian di masa lalu itu. Tapi, asal dia tau, aku masih terus memendam rasa kagum ini. Semua kenangan tentangnya masih tersimpan dalam ingatanku. Bahkan surat-surat darinya masih tersimpan rapi.
Ternyata, dia sudah beda. Tapi kebaikan dan kecerdasannya gak pernah berubah. Aku sering mengobrol dengannya lewat facebook. Hingga akhirnya, komunikasi kami berlanjut di sms..

Aku masih ingat saat aku sedang deg-degan menunggu surat kelulusan. Dialah yang sudah menemaniku. Dan meladeniku yang sedang galau itu. Dia sangat ramah dan lucu. Aku sering dihibur dan diberi pencerahan tatkala aku sedang galau.

Sampai pada akhirnya, dia diterima di sebuah PTN, dan harus meninggalkan kota ini. Dia mengajakku ketemuan sebelum akhirnya ia pergi. Akupun tak menolak ajakannya... 

****
Akhirnya kamipun ketemuan. Setelah berpikir-pikir mau ketemu dimana. Akhirnya ia menjemputku di suatu tempat yang tidak jauh dari rumahku. Entah kenapa aku jadi deg-degan saat menunggu kedatangannya. Getaran apakah ini ya Tuhan? Berjuta pertanyaan sudah mengawan di benakku. Seperti apa ya dia sekarang? Apakah dia masih seperti yang dulu? Hmm, akupun menepis semua pertanyaan yang membuatku penasaran itu.
Yang ditunggu-tunggu ternyata datang juga. Aku kaget dan sekaligus senang saat berjumpa dengannya. Senyumnya. Aduh jadi bikin aku gerogi. Hehe.
Akupun bersalaman dengannya. Menanyakan kabar satu sama lain. Setelah itu, akupun jalan-jalan naik motor bersamanya. Entah kemana tujuan kami saat itu. Rasa bingung terus membuat aku jadi keki dengannya. Tapi untung aja di sepanjang jalan aku selalu mengobrol dengannya.

Entah angin darimana, akhirnya aku tiba di depan rumahnya. Hmm dulu semenjak jadian pas SMP aku emang ga pernah jalan ama dia. Tapi kayanya benar-benar terbalas hari ini. Aku seneng bgt bisa singgah di rumahnya.
Kamipun terus bercengkrama satu sama lain. Hmm, suasana semakin begitu hangat. Aku merasa tambah dekat dengannya. Entah kenapa aku makin merasakan degupan yang dahsyat ini. Apa maksudnya ini? Apa aku masih mendambanya? Apa rasa yang seperti 5 tahun itu datang lagi? Entahlah aku tak mengerti. Aku akhirnya menjalani hari ini yang terus mengalir seperti air.

***

Hari berlalu begitu cepat, tak terasa akhirnya aku harus menyudahi perjumpaan kali ini dengannya. Rasanya berat banget buat berpisah dengannya. Entah kenapa aku merasa nyaman aja kalau di dekat dia.
Tapi... Yasudahlah, akhirnya aku pun diantarnya pulang..

***
Malam harinya, ia kembali mengirimku sms.
Nampaknya dia senang setelah berjumpa denganku. Di lubuk hatiku yang terdalam aku juga masih menyimpan rasa itu padanya. Dia mengisi hatiku yang telah lama kosong.. Aku sangat berharap dan berharap ia mengucapkan kalimat yang ku damba itu padaku...

***

Sejak pertemuan ku pertama kalinya dengannya sejak terpisah selama bertahun-tahun, akhirnya aku semakin dekat dengannya. Pertemuan itu kemudian berlanjut dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Membuat hubungan kami jadi begitu dekat. Pertemanan yang bermula dari facebook pun kemudian berlanjut ke hubungan yang lebih dekat lagi. Hingga akhirnya ia mengungkapkan isi hatinya padaku.

Aku terkejut dan tak menyangka dalam waktu beberapa hari setelah pertemuan pertama ia ternyata memiliki perasaan yang sama seperti 5 tahun yang lalu. Tapi inilah yang aku dambakan. Kalimat yang selalu ku tunggu tuk diucapkan oleh pujaan hatiku akhirnya terucap sudah. Aku senang. Tapi aku masih belum bisa memberikan jawaban untuknya. Aku pun meminta waktu untuk memikirkan jawabannya.

Cinta pertamaku di SMP yang dulu sangat aku puja, di saat aku sedang lugu-lugunya kini kembali lagi mengisi kehampaan hatiku. Entah perasaan apa yang selalu bercokol di hatiku ini. Apakah mungkin aku mencintainya lagi? Apakah dia benar-benar serius untuk memulai cerita cinta yang baru setelah lama kandas? Aku rasa ini terlalu cepat bagiku. Atau apakah memang harus cepat? Ah, aku pusing. Aku berpikir keras untuk kepastian hubungan ini. Tapi tetap saja, hati memang tidak bisa bohong. Memori indah tentangnya yang dulu terkubur dalam, kini harus ku bongkar lagi. Mungkin ini yang disebut cinta lama belum kelar.

Ternyata aku terbius oleh tatapan matanya. Bayangannya selalu hadir dalam lamunanku. Aku mencintainya lagi. Tuhan memang Maha pembolak-balik hati. Skenario hidupku memang unik sekali. Bertemu dengan cinta pertama setelah 5 tahun tak bertemu, kini kembali merajut tali cinta lagi. Aku sudah memantapkan hatiku. Ku buang jauh-jauh segala pikiran negatif tentangnya. Aku percaya dia masih seperti yang dulu. Masih baik hati dan setia. Aku percaya dia bukan tipe orang yang mempermainkan perasaan wanita. Bukan menjadikan aku pelarian sakit hatinya.

Oh.. Tuhan..
Andai benar dia jodohku.. Dekatkanlah selalu..
Tapi jika bukan..
Jauhkanlah dia dari hidupku..
Karena aku tak ingin sakit hati lagi oleh janji-janji palsu..


Semoga dia memang jodoh yg terbaik buat aku.
Amiin :)

11 September 2011

Apa itu BID'AH?

PENGERTIAN BID’AH
[Definisi Secara Bahasa]
Bid’ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 1/91, Majma’ Al Lugoh Al ‘Arobiyah-Asy Syamilah)
Hal ini sebagaimana dapat dilihat dalam firman Allah Ta’ala,
بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Allah Pencipta langit dan bumi.” (QS. Al Baqarah [2] : 117, Al An’am [6] : 101), maksudnya adalah mencipta (membuat) tanpa ada contoh sebelumnya.
Juga firman-Nya,
قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُلِ
“Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah di antara rasul-rasul’.” (QS. Al Ahqaf [46] : 9) , maksudnya aku bukanlah Rasul pertama yang diutus ke dunia ini. (Lihat Lisanul ‘Arob, 8/6, Barnamej Al Muhadits Al Majaniy-Asy Syamilah)
[Definisi Secara Istilah]
Definisi bid’ah secara istilah yang paling bagus adalah definisi yang dikemukakan oleh Al Imam Asy Syatibi dalam Al I’tishom. Beliau mengatakan bahwa bid’ah adalah:
عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ
Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.
Definisi di atas adalah untuk definisi bid’ah yang khusus ibadah dan tidak termasuk di dalamnya adat (tradisi).
Adapun yang memasukkan adat (tradisi) dalam makna bid’ah, mereka mendefinisikan bahwa bid’ah adalah
طَرِيْقَةٌ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا مَا يُقْصَدُ بِالطَّرِيْقَةِ الشَّرْعِيَّةِ
Suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) dan menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika melakukan (adat tersebut) adalah sebagaimana niat ketika menjalani syari’at (yaitu untuk mendekatkan diri pada Allah). (Al I’tishom, 1/26, Asy Syamilah)
Definisi yang tidak kalah bagusnya adalah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rahimahullah mengatakan,
وَالْبِدْعَةُ : مَا خَالَفَتْ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ أَوْ إجْمَاعَ سَلَفِ الْأُمَّةِ مِنْ الِاعْتِقَادَاتِ وَالْعِبَادَاتِ
“Bid’ah adalah i’tiqod (keyakinan) dan ibadah yang menyelishi Al Kitab dan As Sunnah atau ijma’ (kesepakatan) salaf.” (Majmu’ Al Fatawa, 18/346, Asy Syamilah)
Ringkasnya pengertian bid’ah secara istilah adalah suatu hal yang baru dalam masalah agama setelah agama tersebut sempurna. (Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Al Fairuz Abadiy dalam Basho’iru Dzawit Tamyiz, 2/231, yang dinukil dari Ilmu Ushul Bida’, hal. 26, Dar Ar Royah)
Sebenarnya terjadi perselisihan dalam definisi bid’ah secara istilah. Ada yang memakai definisi bid’ah sebagai lawan dari sunnah (ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), sebagaimana yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Asy Syatibi, Ibnu Hajar Al Atsqolani, Ibnu Hajar Al Haitami, Ibnu Rojab Al Hambali dan Az Zarkasi. Sedangkan pendapat kedua mendefinisikan bid’ah secara umum, mencakup segala sesuatu yang diada-adakan setelah masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam baik yang terpuji dan tercela. Pendapat kedua ini dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Al ‘Izz bin Abdus Salam, Al Ghozali, Al Qorofi dan Ibnul Atsir. Pendapat yang lebih kuat dari dua kubu ini adalah pendapat pertama karena itulah yang mendekati kebenaran berdasarkan keumuman dalil yang melarang bid’ah. Dan penjelasan ini akan lebih diperjelas dalam penjelasan selanjutnya. (Lihat argumen masing-masing pihak dalam Al Bida’ Al Hawliyah, Abdullah At Tuwaijiri, www.islamspirit.com)

AGAMA ISLAM TELAH SEMPURNA
Saudaraku, perlu kita ketahui bersama bahwa berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, agama Islam ini telah sempurna sehingga tidak perlu adanya penambahan atau pengurangan dari ajaran Islam yang telah ada.
Marilah kita renungkan hal ini pada firman Allah Ta’ala,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Ma’idah [5] : 3)
Seorang ahli tafsir terkemuka –Ibnu Katsir rahimahullah- berkata tentang ayat ini, “Inilah nikmat Allah ‘azza wa jalla yang tebesar bagi umat ini di mana Allah telah menyempurnakan agama mereka, sehingga mereka pun tidak lagi membutuhkan agama lain selain agama ini, juga tidak membutuhkan nabi lain selain nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah menjadikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi, dan mengutusnya kepada kalangan jin dan manusia. Maka perkara yang halal adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam halalkan dan perkara yang haram adalah yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam haramkan.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ma’idah ayat 3)
SYARAT DITERIMANYA AMAL
Saudaraku –yang semoga dirahmati Allah-, seseorang yang hendak beramal hendaklah mengetahui bahwa amalannya bisa diterima oleh Allah jika memenuhi dua syarat diterimanya amal. Kedua syarat ini telah disebutkan sekaligus dalam sebuah ayat,
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan Rabbnya dengan sesuatu pun.” (QS. Al Kahfi [18] : 110)
Ibnu Katsir mengatakan mengenai ayat ini, “Inilah dua rukun diterimanya amal yaitu [1] ikhlas kepada Allah dan [2] mencocoki ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits ini adalah hadits yang sangat agung mengenai pokok Islam. Hadits ini merupakan timbangan amalan zhohir (lahir). Sebagaimana hadits innamal a’malu bin niyat [sesungguhnya amal tergantung dari niatnya] merupakan timbangan amalan batin. Apabila suatu amalan diniatkan bukan untuk mengharap wajah Allah, pelakunya tidak akan mendapatkan ganjaran. Begitu pula setiap amalan yang bukan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka amalan tersebut tertolak. Segala sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin dari Allah dan Rasul-Nya, maka perkara tersebut bukanlah agama sama sekali.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 77, Darul Hadits Al Qohiroh)
Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Secara tekstual (mantuq), hadits ini menunjukkan bahwa setiap amal yang tidak ada tuntunan dari syari’at maka amalan tersebut tertolak. Secara inplisit (mafhum), hadits ini menunjukkan bahwa setiap amal yang ada tuntunan dari syari’at maka amalan tersebut tidak tertolak. …Jika suatu amalan keluar dari koriodor syari’at, maka amalan tersebut tertolak.
Dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘yang bukan ajaran kami’ mengisyaratkan bahwa setiap amal yang dilakukan hendaknya berada dalam koridor syari’at. Oleh karena itu, syari’atlah yang nantinya menjadi hakim bagi setiap amalan apakah amalan tersebut diperintahkan atau dilarang. Jadi, apabila seseorang melakukan suatu amalan yang masih berada dalam koridor syari’at dan mencocokinya, amalan tersebutlah yang diterima. Sebaliknya, apabila seseorang melakukan suatu amalan keluar dari ketentuan syari’at, maka amalan tersebut tertolak. (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 77-78)
Jadi, ingatlah wahai saudaraku. Sebuah amalan dapat diterima jika memenuhi dua syarat ini yaitu harus ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika salah satu dari dua syarat ini tidak ada, maka amalan tersebut tertolak.

26 Juli 2011

Kekayaan Bukan Segalanya by: WIDYAWATI


          Dara, bocah yang kini duduk di kelas 5 SD itu adalah seorang anak tunggal dari keluarga Bapak Mukhtar. Keluarga dara terkenal di seluruh penjuru Indonesia. Bapaknya, adalah seorang Bisnisman Perusahaan furniture yang sukses dan sangat kaya raya. Hartanya melimpah, sahamnya ada dimana-mana. Berbagai perusahaan ia bangun, namun yang sangat menonjol adalah perusahaan furniture dan property rumah tangga itu.
                Dibalik kekayaan dan fasilitas yang bisa Dara dapatkan, ia masih merasa dirinya tak bahagia seperti selayaknya anak-anak seumurannya. Kehidupannya dikekang, ia tidak boleh pergi keluar rumah tanpa kawalan beberapa pembantunya. Ia tak boleh bermain dan bergaul dengan orang sembarangan. Bahkan ia pun menempuh home schooling untuk pendidikannya. Ia merasa sangat kesepian tanpa seorang teman. Ia tak nyaman tinggal di istana yang baginya adalah neraka.
                Namun, Dara tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa menuruti perkataan ayahnya yang begitu keras baginya. Ia hanya tinggal bersama ayahnya, ibunya sudah lama meninggal sejak Dara masih berusia 3 tahun karena penyakit Kanker Otak yang begitu ganas. Menambah deretan panjang cerita pahit dan memilukan bagi Dara. Begitu banyak cobaan demi cobaan dalam hidupnya. Untuk menguji iman dan mentalnya. Ia memang anak gedongan, apa saja yang ia minta pasti akan terkabul. Namun, kebahagiaan dan kasih sayanglah yang tak bisa dibeli dengan uang, sebanyak apapun itu! Karena kasih sayang itu tak ternilai harganya.
                “Hari ini, papa akan mendatangkan guru les piano untuk kamu, dara. Biar kamu bisa jadi maestro piano dikemudian kelak”
                “Pa aku capek tiap hari les ini-itu, belajar tak henti-hentinya. Aku pengen istirahat. Aku mau ngerasain indahnya bermain dan punya teman, pa”
                “Kamu berani ngelawan papa?!  Mulai nakal kamu sekarang! Siapa yang udah ngajarin kamu jadi anak pembangkang gini?!”
                “Aku gak ngelawan pa, aku cuma mau kebahagiaan. Aku ngerasa kesepian”
                “Kamu butuh teman? Yasudah nanti papa akan membawa anak teman relasi papa. Kamu gak boleh bergaul dengan orang yang derajatnya lebih rendah dari kita. Kita adalah keluarga terhormat!”
                “Pa kenapa sih papa gak ngasi aku kebebasan untuk memilih teman? Aku pengen berteman dengan siapa saja”
                “Halah! Kamu tuh masih kecil dara! Belum ngerti yang namanya hidup. Sudahlah lebih baik kamu turutin apa kata papa. Cuma papa yang tahu apa yang terbaik untuk hidup kamu”
                Dara hanya melanjutkan sarapannya dengan kedongkolan yang bercokol dohatinya. Untuk permintaan yang satu ini yang tak pernah dikabulkan oleh ayahnya, yang lainnya, mau beli mainan atau baju sebanyak-banyaknya, ayahnya takkan menolak. Hanya rasa sabar yang bisa Dara lakukan.
                Pria paruh baya itupun pergi berangkat ke kantor. Kini tinggallah Dara sendirian bersama para pembantunya.
                “Bi, waktu bibi kecil sering main gak sama temen-temen?” Tanya Dara polos.
                “Iya neng, dulu bibi sering main di sawah sama temen-temen. Main petak umpet, main galasin, main bola bekel. Masil banyak deh permainannya. Emangnya kenapa neng, kok nanyanya gitu?”
                “Aku pengen banget ,bi ngerasain indahnya bermain sama teman-teman. Bebas kesana-kemari sesukaku. Tapi yang ada aku malah cuma di kurung disini” Kata Dara sedih.
                “Sabar ya, neng. Bibi yakin kok ini yang terbaik untukmu” Kata Bibi Yuni berusaha menghibur.
                “Tapi aku gak bahagia bi. Ga enak banget rasanya gak punya temen”
                “Kan ada bibi. Kita main aja yuk? Mau main apa?”
                “Aku mau main permainan yang bibi certain. Lari-larian dan bercanda sama temen. Pasti lebih asyik”
                “Yah itu kan harus berkelompok mainnya. Hmm, main boneka aja yuk?”
                “Bosen ah, bi”
                “Kamu mau ikut bibi?”
                “Kemana?”
                “Ke tempat masa kecil bibi”
                “Tapi ntar aku dimarahi papa kalau keluar”
                “Gak apa-apa. Bibi berani ngejamin kok. Kamu akan aman kok”
                “Oh yaudah. Makasi banget ya, bi”
                “Iya sama-sama. Ayo kita siap-siap”
***

                Setelah Bibi Yuni memberitahu teman-teman pembantu di rumah Dara, ia pun segera membawa pergi Dara menuju tempat yang bisa membuatnya bahagia. Setibanya disana, Dara begitu berdecak kagum menyaksikan pemandangan yang ia lihat. Ia menyaksikan hijaunya persawahan yang terhampar sejauh mata memandang. Lalu diatas pegunungan itu berdiri tegak pepohonan di rerimbunan hutan belantara. Semuanya menakjubkan, terlihat anak-anak kecil kumuh yang seusia dengannya sedang asyik berlarian di sawah sambil berkejar-kejaran. Dara penasaran dan ingin sekali mendekati mereka.
                “Bi, aku mau main bersama mereka” Pinta Dara sambil menunjuk sekelompok anak yang berkubangan di lumpur.
                “Tapi kamu gak boleh berkotor-kotoran sayang”
                “Yaudah tapi pokoknya aku mau main sama mereka!”
                “Iya iya, sebentar ya, bibi panggilin mereka”
                “Nak Olip, nak gusti!” teriak Bi Yuni sambil melambaikan tangan kea rah sekelompok bocah tadi.
                “Eh ada mbok yuni. Ayo kita kesana” Ajak gusti pada teman-temannya.
                “Ayok” seru mereka bersamaan.
                “Kalian sedang apa?”  Tanya Dara sambil menatap satu persatu bocah itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
                “Abis main mandi lumpur. Hii” Jawab Olip sambil nyengir polos.
                “Ih kok  jorok sih mainnya? Katanya cuma main petak umpet sama galasin?”
                “Iya sih biasanya kita main itu, tapi kita bosen kalau mainnya itu terus” ucap lili.
                “Betul itu” seru yang lainnya.
                “Yaudah sekarang kalian ganti baju ya, bibi bawa anak majikan bibi buat main bersama kalian. Oh iya, kenalan dulu dong”
                “Dara” kata dara sambil bersalaman dengan mereka.
                “Agus”
                “Gusti”
                “Olip”
                “Lili”
                “Senang bisa berkenalan dengan kalian” kata Dara sambil tersenyum.
                “Kami ganti baju dulu ya, dara” kata Lili.
                “Iya”
                “Ayo ikut ke pondok kami” ajak Agus.
                “Iya terimakasih, yuk” kata Bibi dan Dara sambil berjalan mengikuti langkah bocah-bocah itu.
                Setibanya di pondok kecil itu, Dara begitu tercengang dengan apa yang ia lihat. Dirumah yang begitu kecil ini mereka bisa bahagia walaupun dalam himpitan ekonomi yang sulit. Mereka masih bisa tertawa dan berlarian tanpa memikirkan keadaan keluarga mereka yang dibawah garis kemiskinan. Kehidupan seperti inilah yang Dara tak miliki. Ia memang punya segalanya, namun kebahagiaan dan kasih sayang keluarga yang tidak ia dapati. Dara sangat terharu dan salut pada kekompakan mereka. Ia begitu sadar masih banyak orang yang tak seberuntung dirinya.
                “Bi, aku jadi pengen tinggal disini’
                “Hmm, kasian dong bibi nanti sendirian kalau kamu disini. Begitu juga papa kamu”
                “Bibi kan masih bisa kesini lagi. Kalau papa, dia gak akan peduli”
                “Jangan gitu dong manis. Semuanya sangat sayang kok sama kamu”
                “Hei, kita mau main apa nih?” kata Lili yang tiba-tiba keluar dari pintu sambil mengenakan kaos usangnya.
                “Main galasin yuk? Tapi ajarin aku ya” Kata Dara polos.
                “Ayuk ayuk” Sahut Gusti dan Agus.
                Mereka pun pergi menuju lapangan di dekat sungai.  Mereka pun saling suit utuk menentukan kelompok. Setelah suit, merekapun segera memulai permainan. Masing-masing ditempatkan sesuai posisinya, satu sama lain harus bisa menyentuh lawannya. Supaya bisa memenangkan permainan. Nampak Dara yang sedikit grogi, namun ia bahagia bisa merasakan asyiknya bermain sebebas ini. Bi Yuni menatap mereka yang sedang asyik bermain dari balik rerumputan, ia tersenyum bahagia bisa melihat putri jutawan itu senang.
                Tanpa ia sadari ternyata hari semakin sore, Bi yuni pun akhirnya segera meminta mereka untuk berhenti bermainnya. Karena Dara harus segera pulang.
                “Maaf ya, Dara harus segera pulang nanti dia bisa dimarahi papanya kalau terlambat pulang”
                “Iya gak apa-apa kok. Kapan-kapan kesini lagi ya Dara. Seru banget bisa main bersama kamu!” Kata Gusti
                “Iya, tenang aja. Aku akan sering-sering kesini lagi kok”
                Merekapun berpamitan dan bergegas pulang. Mereka naik sebuah angkutan kota yang panas dan sumpek, namun tak menghilangkan rasa bahagia yang baru saja mereka alami. Dara tak henti-hentinya bercerita tentang pengalaman mengasyikkan ketika bermain. Sementara Bi Yuni dengan sabar meladeni Dara yang cerewet ini. Tak terasa mereka sudah tiba di depan gerbang istana itu. Lalu merekapun memasuki rumah dan berharap pak Mukhtar belum pulang. Namun, kenyataan berkata lain. Saat mereka memasuki rumah, terlihat Pak Mukhtar sedang berdiri tegak dengan mata melotot dan geram. Mereka pun ketakutan melihatnya.
                “Darimana saja kalian baru pulang jam segini?!”
                “Maaf tuan, tadi saya abis ngajak Dara ke taman di dekat perumahan sini”
                “Berani-beraninya kamu membawa Dara tanpa seijin saya! Mau kamu saya pecat?!”
                “Jangan, pa! Bi Yuni gak salah kok, aku yang salah udah ngerengek-rengek minta main di taman”  Kata Dara dengan polosnya membela pembantunya yang sangat berjasa padanya.
                “Hm baiklah, kamu masih bisa saya maafkan. Tapi kalau kejadian ini terulang lagi, saya gak akan segan-segan memecatmu! Masih banyak kok yang mau becus kerja disini!”
                “Makasi, tuan. Maafkan saya yang sudah lancang. Kalau begitu saya permisi dulu ke dapur”  Pamit Bi yuni sambil bergegas menuju dapur. Kini hanya tinggal Pak Mukhtar bersama Dara.
                “Dara, kamu jangan nakal ya. papa sangat sayang sama kamu. Papa gak mau kehilangan kamu. Cukup mama aja yang pergi, tapi kamu jangan” Pinta Pak Mukhtar sambil memeluk Dara.
                “Iya pa, Dara juga sayang banget sama papa”
***
Di kantor…
                “Kita harus cari lokasi baru yang akan kita pakai untuk bahan produksi kita” Kata Pak Mukhtar memulai meeting.
                “Tapi pak, apakah bapak tau dimana tempat yang cocok?” Sanggah salah seorang bawahan Pak Mukhtar.
                “Saya dapat tempat bagus. Masih banyak pohon-pohon jati di tempat itu” Kata Pak Mukhtar sambil tersenyum licik.
                “Wah, bagus itu, pak. Terus gimana pengurusan gono-gininya?” Tanya Sekretaris Pak Mukhtar.
                “Itu sih gampang. Hutan itu kebetulan dekat dengan kampung halaman pembantu saya. Tinggal kasih mereka uang yang melimpah juga akan nurut. Hahaha”
                “Ya mereka kan hanya orang miskin. Pasti dikasih uang saja langsung lupa sama yang lainnya. Betul kan boss?” Tanya salah seorang bawahan Pak Mukhtar.
                “Betul itu! Hahaha” Jawab Pak Mukhtar dengan tawa yang penuh rasa sombong.
***
Keesokan harinya, di desa sukawangi…
                Terlihat segerombolan mobil mewah mendatangi persawahan yang asri itu. Para petani pun tercengang melihat kedatangan mereka yang tak pernah mereka ketahui. Namun mereka mengenali salah satu orang itu, ya dialah Pak Mukhtar. Mereka langsung berebut bersalaman menuju Sang Jutawan itu.
                “Ada apa Pak Mukhtar yang begitu terhormat dan terpandang di negeri ini sudi mendatangi sawah kami?”  Tanya salah seorang petani dengan rasa hormat.
                “Begini, saya lihat di dekat sawah ini ada hutan jati kan? Saya berminat untuk membeli hutan tersebut. Saya berani membayar mahal!”
                “Ampun pak, bukannya kami tak mau. Tapi itu Hutan milik pemerintah” Sanggah salah seorang petani.
                “Saya akan membelinya dan mengurus semuanya. Kalian tinggal terima jadi saja. Kalian mau menawar berapa? Saya akan bayar berapapun yang kalian minta!”
                Petani-petani itupun tercengang, mereka bingung dengan tawaran yang sayang untuk ditolak ini. Tapi mereka tak tega menjual hutan dan sawah mereka pada jutawan itu. Mereka diam sesaat dan saling pandang satu sama lain dengan tatapan kosong.
                “Bagaimana? Mau tidak? Saya berani membeli hutan ini dan kalau perlu bersama sawahnya juga! 1 milyar? 2 milyar? Berapapun akan saya sanggupi!”
                Petani itu tercengang mendengar angka yang demikian fantastis itu. Mereka membayangkan akan menjadi kaya mendadak mempunyai uang sebanyak itu. Lalu mereka berbisik merundingkannya. Entah karena himpitan ekonomi atau memang tak sanggup mengurus sawah itu lagi, mereka pun akhirnya rela menjual sawah dan hutan itu.
                “Baiklah, Pak. Kami terima tawaran bapak. 3 milyar bisa?”
                “Hahahahaha. Berapapun itu, saya sanggup!”
                Seketika, sawah dan hutan itupun sekarang jadi milik Pak Mukhtar. Dengan kekayaan harta yang berlimpah, ia mampu membeli segalanya. Namun Pak Mukhtar terlalu picik pada kehidupan. Ia begitu egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri demi keuntungan yang akan ia dapati. Ia selalu merusak alam. Sudah banyak hutan yang jadi gundul karena habis ditebang untuk produksi furniturenya.
***
Di rumah Dara…
                Dara sedang sibuk bersiap-siap untuk ke desa yang kemarin ia kunjungi. Tepatnya Desa Sukawangi, tempat yang akan dibabat habis oleh ayahnya sendiri. Ia membawa berbagai makanan dan mainan yang akan ia sumbangkan untuk teman-teman barunya itu. Bersama Bi Yuni, ia pun bergegas menaiki sebuah kendaraan angkutan umum  menuju Desa Sukawangi yang tidak terlalu jauh dari rumahnya itu.
                Sementara itu, terlihat berbagai alat berat dan para tukang penebang sibuk untuk menebang pohon di Desa itu. Suasana yang tadi hening dan sunyi kini berubah menjadi bising dan lama-kelamaan akan gersang. Keasrian desa itu akan musnah diujung mesin penebang. Pak Mukhtar terlihat senyum-senyum licik dan bangga, karena sebentar lagi ia akan mendapatkan keuntungan yang besar.
                Dara dan Bi Yuni akhirnya tiba di Desa Sukawangi. Namun mereka melihat keanehan dan perubahan yang begitu drastis dari tempat itu. Baru saja kemarin mereka melihat pemandangan yang asri, kini berganti menjadi pemandangan yang gersang dan bising. Bi Yuni melihat sesosok Pak Mukhtar yang sedang melihat-lihat lokasi. Beliau pun tak banyak kata segera menghampiri Pak Mukhtar.
                “Pak, apa-apaan ini bapak menggusur kampung saya? Bahkan menebang semua pepohonan di hutan?” Kata Bi Yuni tak terima.
                “Ngapain kamu disini?! Ngapain juga kamu membawa anak saya?! Ini bukan urusan kamu, ini urusan bisnis saya!”
                “Pa, baru saja aku mendapatlan kebahagiaan yang tak pernah aku rasakan selama ini. Tapi papa tega menghancurkan semuanya! Papa jahaat!” Teriak Dara sambil memukul-mukul kakai Ayahnya.
                “Apa-apaan kamu dara? Kebahagiaan apa yang kamu maksud? Ga ada kebahagiaan disini! Disini hanya tanah gersang yang ga berguna!”
                “Papa, tega mengambil semuanya! Papa tega merampas kebahagiaanku. Kehidupan teman-teman baruku!”
                “Dara, kamu anak kecil ga ngerti apa-apa gak usah banyak bicara. Lebih baik kamu pulang sekarang juga!”
                “Gak! Aku gak akan pulang. Sebelum papa menghentikan ini semua. Papa ga mau kan kehilangan aku? papa sayang kan sama Dara?”
                “Dara, kamu gak usah manja gitu dong. Ini tuh urusan bisnis papa. Kita bisa hidup dari hutan ini sayang. Kamu mau hidup dijalanan hah?!”
                “Gak apa-apa Dara hidup dijalanan! Yang penting Dara bisa bahagia. Daripada sekarang, papa hanya memikirkan diri papa sendiri. Papa gak pernah peduli sama lingkungan yang udah papa rusak! Papa juga ga mikirin gimana perasaanku selama ini yang selalu dikekang dengan berbagai macam aturan papa!”
                “Berani kamu melawan papa?!!!” Kata Pak Mukhtar sambil mengarahkan tangannya ke wajah Dara.
                “Cukup pak!”  seru Bi Yuni sambil menepis tamparan Pak Mukhtar dari wajah Dara. Bi Yuni sudah tak tahan lagi melihat Dara disiksa seperti ini di hadapannya.
                “Kamu juga, yun! Kurang ajar! Kamu tuh pembantu! Ga ada rasa sopannya kau sama majikan! Mau saya pecat?!”
                “Gak apa-apa saya dipecat. Saya sudah gak tahan dan gak tega ngeliat bapak selalu menyiksa bathin Dara. Ia masih kecil, butuh kebahagiaan yang pantas untuk anak seusianya! Ga seperti ini pak caranya membuat Dara bahagia. Ini justru menyiksa Dara!”
                “Kau tuh pembantu! Ngapain menggurui saya!”
                “Maaf pak kalau saya terkesan menggurui bapak. Setidaknya kita sama-sama manusia. Harus saling mengingatkan. Semua manusia sama, pak!”
                “Halah! Kau ga pantas bicara seperti itu di depan saya! Lulus SD juga tidak. Gak usah menggurui saya!”
                “Udah cukup, pa! kalau papa masih tetap ingin menghancurkan kebahagiaan Dara. Lebih baik Dara pergi. Dara lebih bahagia bersama Bi Yuni. Walaupun kekurangan, tapi Dara bisa bahagia!”
                “Dara, kamu jangan tinggalin papa. Papa mohon. Cuma kamu satu-satunya harta papa yang paling berharga” Kata Pak Mukhtar yang tiba-tiba luluh oleh pinta Dara.
                “Aku akan pergi, kalau papa tetap ingin memusnahkan hutan ini! Apakah Papa gak sadar betapa berartinya pohon-pohon ini bagi kehidupan manusia?!”
                “Maafkan papa, Dara. Papa memang sudah terlanjur tersilap dengan kilauan harta. Sehingga papa melupakanmu dan melupakan lingkungan sekitar”
                “Papa sayang Dara kan? Kalau begitu Dara pengen papa suruh pulang tukang-tukang itu” kata Dara sambil menunjuk ke arah para pekerja yang sedang sibuk menebang.
                “Iya sayang. Papa sangat sayang sama kamu. Papa akan turutin keinginan kamu. Papa janji gak akan menyia-nyiakan kebahagiaanmu lagi” Kata Pak Mukhtar sambil memeluk erat Dara
                “Makasih pa”
                “Iya Dara. Maafkan papa”
***
               




PADAMU, KUMENGADU (Antologi Curhatan untuk Tuhan Karya Widyawati)



Ya Allah.
Malam ini, aku bersimpuh di hadapanmu. Di malam yang hening dan penuh kesyahduan-Mu. Dikala orang-orang telah lelap dalam tidur panjang mereka. Dikala jalanan sudah mulai sepi dari aktifitas manusia. Dikala malaikat-malaikat-Mu turun ke bumi tuk mendengar doa orang-orang yang sholeh. Aku masih terjaga di malam ini. Aku tak bisa memejamkan mataku malam ini. Aku masih teringat pada-Mu, Ya Rabb. Hanya engkaulah Yang Maha Besar dan tak pernah tidur. 

Ya Allah.
Hidupku bagai roda yang terus berputar. Kadang di bawah, dan kadang di atas, begitulah kata pepatah. Aku begitu merasakannya kini. Bagaimana pahitnya dan kejamnya kehidupan di luar sana. Aku yang baru beranjak dewasa ini masih belum bisa terbiasa menghadapi ini sendiri. Bagaikan badai yang ingin mengombang-ambingkan pendirianku. Aku terus menerus mencoba untuk menahan tiap hempasan demi hempasan ombak rintangan kehidupan ini. Berbagai ujian dan cobaan melanda hidupku. Seolah-olah aku memang pantas tuk mendapatkan ini semua. Aku tak kuat Ya Allah menghadapi ini semua sendirian. Aku butuh engkau Ya Allah, sang Pemilik Jiwa Ragaku yang rapuh ini. Berikan aku sedikit saja kekuatan untuk berusaha tegar menjalani nasib hidup yang berat ini. Kesabaranku sudah di ujung tanduk. Aku hampir putus asa menghadapi ini. Aku tak kuasa menahan diri untuk menyerah melawan takdir. Aku pasrah pada-Mu, Ya Allah. Aku hanya berharap kelak akan ada keajaiban dari-Mu.

Ya Allah.
Engkau Maha Mendengar semua doa hamba-Mu. Walaupun hanya terucap dalam hatiku, namun kau mendengar semuanya. Kau Maha Mengetahui apa saja yang terjadi pada Hamba-Mu. Sedangkan aku, hanya makhluk ciptaan-Mu yang tak sempurna serta tak luput dari segala dosa dan ingkar pada-Mu. Aku sangat menyesali semua kelalaianku selama ini pada-Mu, Ya Allah. Aku sadar, betapa banyak nikmat yang engkau beri padaku selama ini. Namun aku telah lupa pada semua nikmat-Mu. Kini kau tegur aku dengan cobaan yang engkau ujikan padaku. Aku tersadar diriku telah menyia-nyiakan kehadiran-Mu yang selalu ada dalam hidupku. Aku terlalu larut dalam kegemerlapan dunia yang begitu menyilaukan mata hatiku. Aku melupakanmu, Yang Maha Memiliki segalanya di dunia ini. Aku sadar, segala nikmat yang engkau berikan padaku adalah titipanmu yang fana. Semua pemberianmu hanyalah cobaan bagiku. Apakah aku mampu bersyukur atau kufur pada-Mu?

Ya Allah.
Kini aku mengerti dan menyadari apa itu kebahagiaan dan kesengsaraan. Kebahagiaan dunia yang engkau berikan padaku hanyalah kebahagiaan sesaat dan menyesatkan jalan hidupku pada-Mu. Sehingga membuat aku melupakanmu. Kini aku dilanda kesengsaraan batin. Tiap hari jiwaku selalu gelisah, karena dosaku yang tak terhitung jumlahnya. Dosa-dosaku bagaikan pasir yang tertumpuk di gurun sahara yang gersang. Kebahagiaan dunia penuh dengan rayuan dan godaan syaitan yang engkau laknat. Sialnya, aku termakan segala bisikan dan rayuan mereka tuk membangkang pada-Mu. Astaghfirulloh aladzim! Sungguh, aku telah terperangkap dalam penjara kenistaan mereka. Aku meronta dalam penjara ini. Aku melolong minta tolong pada-Mu. Dengan sisa-sisa energi yang aku punya. Aku memohon pada-Mu, Ya Rabbul Karim. Bebaskan aku dari penjara terlaknat ini! Aku rindu dengan sentuhan kasih sayang-Mu yang begitu ikhlas memberi nikmat kebahagiaan yang sesungguhnya pada Hamba-Mu. 

Ya Allah.
Diriku bagaikan seonggok sampah kecil yang berada di tengah luasnya jagat raya-Mu. Tiada guna dan tiada artinya kehidupanku ini. Diriku kini seolah-olah seperti sampah yang mencemarkan lingkungan. Mereka yang dulu memuja-mujaku, kini meninggalkanku bersama semua sisa-sisa yang aku miliki. Aku sudah tak berguna lagi bagi mereka. Mereka membuangku disaat aku sudah tak ada gunanya lagi. Mereka memperalat semua yang aku punya. Mereka mempermainkanku dengan semua kebahagiaan semu yang mereka berikan padaku. Kini, mereka sudah merebut segalanya. Kehormatan dan harta paling berharga yang aku punya telah mereka rampas. Bodohnya, aku tak kuasa memberontak tuk menghalau mereka semua! Sungguh aku menyesal telah terlanjur berada di jalan hidup yang jauh dari tangan-Mu. Kini tinggallah aku seorang diri. Tak punya apa-apa, hanya Engkaulah yang aku miliki. Hanya Engkaulah yang selalu setia berada di dekatku. Disaat aku jauh darimu sekalipun. Kini aku baru benar-benar menyadari arti kehadiran-Mu yang begitu berarti dalam kehidupanku. Tanpa-Mu, aku takkan pernah menjadi seseorang yang berarti.

Ya Allah.
Engkaulah Sang Maha Cinta. Takdir memang sudah terlanjur kau tetapkan dalam kitabmu pada hari sebelum semua makhlukmu tercipta. Sejak itulah semua tentang nasibku dan semua Hamba-Mu yang lain telah ditetapkan. Namun masih ada takdir yang dapat kuubah dengan tangan lemahku ini. Aku masih punya harapan untuk melawan takdir ini. Aku harus bangkit dan kembali maju untuk masa depanku. Aku tak boleh kalah oleh keputusasaan. Dan lagi-lagi, iblis terus merayuku untuk berputusasa. Astaghirullohaladzim! Lindungi aku Ya Allah dari segala bisikan dan godaan iblis laknatullah! Aku hanya ingin menjadi hamba-Mu yang ikhlas dan tawadu pada-Mu. Aku ingin seperti dulu ketika ku terlahir di dunia fana ini. Penuh dengan kesucian dan kasih sayang. Aku tahu, kini aku memang menjijikkan di mata-Mu. Tubuhku yang tiada daya ini telah berlumur dosa yang tak terkira.

Ya Allah.
Di keheningan Qiyamul Lail-Mu, aku bersujud dan akan terus bersujud di atas tanah ini. Memohon ampun atas segala khilafku yang entah sudah seberapa banyaknya. Aku tak kuat tuk memikul beban dosa ini sendirian. Malam ini, aku ingin mengetuk pintu Surga-Mu, Ya Allah. Izinkan aku Ya Allah, izinkan aku tuk memasuki pintu Firdaus-Mu yang kokoh dan kekal abadi itu. Hanya engkaulah satu-satunya tempatku mengadu saat ini. Tiada lain yang mampu mengobati perih hatiku akibat penyakit hati yang tak terobati ini. Selain belai kasih-Mu, Ya Allah. Aku memang tak berguna di dunia ini. Namun, apakah aku tak pantas merasakan indahnya nikmatmu yang agung? Aku hanya ingin bahagia. Aku ingin menunjukkan semua yang aku mampu. Aku ingin menunjukkan pada dunia bahwa aku masih berarti di dunia ini.